BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak
manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri
pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang alam sekitar di sekelilingnya merupakan
kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan
untuk mengenal segala sesuatu melalui indera penglihatan, pendengaran,
pengecapan dan indera-indera lainnya. Hingga dewasa keingintahuan manusia
secara terus menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya.
Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari oleh keingintahuan itu. Didasari hal
inilah suatu strategi pembelajaran yang dikenal dengan inquiri dikembangkan.
Belajar
merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan.
Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara sadar
berdasarkan
pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Proses
pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik, metode, dan pendekatan
tertentu sesuai dengankarakteristik, tujuan, peserta didik, materi, dan sumber daya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan efektif.
Strategi pembelajaran merupakan
suatu seni dan ilmu untuk membawa pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan
yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efesien dan efektif. Cara-cara yang
dipilih dalam menyusun strategi pembelajaran meliputi sifat, lingkup dan urutan
kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.
Strategi belajar mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur dan kegiatan,
melainkan juga termasuk di dalamnya materi pengajaran atau paket pengajarannya.
Pembelajaran
di SMA/SMK selama ini cenderung masih banyak yang didominasi oleh guru, siswa
hanya menerima pengetahuan yang diberikan guru tanpa melalui pengolahan potensi
yang ada. Sering kali guru lebih mendahulukan ketercapaian target kurikulum dan
hasil akhir, akibatnya makna proses pembelajaran kurang dirasakan bagi bekal
dalam memecahkan permasalahan kehidupannya. Hal ini sesuai dengan apa yang
dikatakan Tjia tahun 2000, bahwa pengajaran di sekolah lanjutan tingkat pertama
(SLTP) maupun sekolah menengah atas (SMA) hanya menekankan satu proses
pemahaman fenomena alam saja, yakni proses deduktif. Hal ini memang berhasil
membuat anak menjadi kritis analitis, tetapi efek sampingnya membunuh
kreativitas anak dalam menyisir fakta-fakta dari fenomena rumit untuk
menghasilkan konsep hipotesis atau model teori yang sederhana.
Penyebab kejadian di
atas dimungkinkan oleh beberapa hal, antara lain:
1. Dimulai
dari kebiasaan guru mengajar bersifat rutin dan monoton. Dirasakan proses
pembelajaran tatap muka bersifat rutin dengan urutan buku paket, dimulai dengan
membahas tugas rumah, selanjutnya guru menjelaskan masalah baru, latihan
mengerjakan soal, dan diakhiri dengan tugas rumah.
2. Bagi
siswa kurang adanya kesempatan untuk melatih diri dalam berpikir, bertanya,
pemecahan masalah (problem solving) dan mendiskusikan ide, strategi dan solusi
mereka, sehingga tidak tumbuh kreativitas dalam memecahkan masalah pada diri
siswa.
Telah dijelaskan bahwa salah satu
kelemahan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru kita adalah kurang
adanya usaha pengembangan kemampuan berfikir siswa. Dalam setiap proses
pembelajaran pada pelajaran apa pun kita lebih banyak mendorong agar siswa
dapat menguasai sejumlah materi pelajaran. Sterategi ini yang di bahas adalah
sterategi yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa.
Metode mengajar adalah suatu
pengetahuan tentang cara –cara mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru
atau instruktur. Pengertian lain ialah teknik penyajian yang dikuasai guru
untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas,
baik secara individual maupun kelompok, agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami
dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik. Makin baik metode mengajar, makin
efektif pula pencapaian tujuan (Ahmadi, 2005 : 52)
Ada dua paradigma pembelajaran
yaitu Teacher center dan Student center. Pembelajaran teacher center adalah suatu proses
belajar yang berpusat pada penyampaian guru artinya siswa hanya duduk diam
mendengarkan ceramah guru.
Siswa
secara pasif menerima materi dari guru. Paradigma pembelajaran seperti ini
dianggap kurang efektif untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa. Dengan
anggapan itu, paradigma pembelajaran ini pun mulai ditinggalkan dan beralih
pada paradigma yang baru yaitu student
center.
Pembelajaran student center adalah suatu proses
belajar yang berpusat pada siswa sebagai subyek belajar. Siswa diajak untuk
aktif dalam proses belajar dengan harapan dapat memperkuat fondasi pengetahuan
para siswa untuk setiap materi pelajaran yang mereka pelajari.
Untuk menjalankan paradigma
pembelajaran student center ini
digunakanlah model-model pembelajaran yang dipakai dalam proses belajar
mengajar. Salah satunya adalah model pembelajaran discovery atau penemuan. Model pembelajaran ini dirancang
sedemikian rupa agar para siswa dapat menemukan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri tanpa pemberitahuan secara
langsung dari guru.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian dari pembelajaran inquiry?
2. Siapakah
tokoh yang mengembangkan pembelajaran inquiry?
3. Apakah
ciri-ciri model pembelajaran dengan sistim inquiry?
4. Apa
tujuan dan sasaran utama dari model pembelajaran dengan sistim Inquiry?
5. Apa
saja macam-macam model pembelajaran dengan sistim inquiry?
6. Bagaimana
langkah-langkah dalam menjalankan model pembelajaran dengan sitim inquiry?
7. Apa
saja prinsip-prinsip pembelajaran inquiry?
8. Apa
karateristik pembelajaran inquiry?
9. Adakah
kesulitan atau hambatan dalam proses pembelajaran dengan sistim inquiry?
10. Apa
saja keunggulan dan kekurangan model pembelajaran dengan sistim inquiry?
11. Apa
manfaat yang diperoleh dari pengembangan perubahan model pembelajaran dengan
sistim inquiry?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini yaitu:
1. Untuk
mengetahui pengertian dari pembelajaran
inquiry
2. Untuk
mengetahui tokoh yang mengembangkan pembelajaran inquiry
3. Untuk
mengetahui ciri-ciri model pembelajaran dengan sistim inquiry
4. Untuk
mengetahui tujuan dan sasaran utama dari model pembelajaran dengan sistim
Inquiry
5. Untuk
mengetahui macam-macam model pembelajaran dengan sistim inquiry
6.
Untuk mengetahui langkah-langkah dalam
menjalankan model pembelajaran dengan sitim inquiry
7.
Untuk mengetahui prinsip-prinsip
pembelajaran inquiry
8.
Untuk mengetahui karateristik pembelajaran
inquiry
9.
Untuk mengetahui kesulitan atau hambatan
dalam proses pembelajaran dengan sistim inquiry
10.
Untuk mengetahui keunggulan dan
kekurangan model pembelajaran dengan sistim inquiry
11.
Untuk mengetahui manfaat yang diperoleh
dari pengembangan perubahan model pembelajaran dengan sistim inquiry
1.4 Manfaat
Berdasarkan
tujuan diatas maka manfaat dari penulisan makalah ini adalah:
1. Bagi
masyarakat
Karya
tulis ilmiah ini dapat digunakan sebagai referensi awal untuk menambah wawasan
masyarakat khusunya guru/pihak pengajar terhadap model pembelajaran dengan
sistim inquiry
2. Bagi
penulis
Pembuatan
makalah ini dapat digunakan untuk melatih keterampilan penulis dalam menyusun
sebuah makalah serta memahami model pembelajaran dengan sistim inquiry.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Dasar Teori
Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2000:
114) metode adalah cara–cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran
yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan
tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan. Metode adalah cara yang
digunakan guru untuk mengajar dengan berbagai aktifitas supaya tercipta
kegiatan belajar yang kondusif dan menyenangkan dan siswa mendapatkan pemahaan
dengan jelas.
Metode Inkuiri menurut Sumantri M. Dan Johar Permana
(2000:142) adalah cara penyajian pelajaran dengan memberi kesempatan kepada
peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru. Metode
Inkuiri memungkinkan para peserta didik menemukan sendiri informasi-informasi
yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya, karena Metode Inkuiri
melibatkan peserta didik dalam proses-proses mental untuk penemua suatu konsep
berdasarkan informasi-informasi yang diberikan guru. Jadi Metode Inkuiri adalah
pelaksanaan belajar mengajar dengan cara siswa mencari dan menemukan konsep
dengan atau bantuan dari guru.
Dalam pelaksanaan pembelajaran diperlukan suatu
lingkungan yang terkondisi dan memadai untuk dapat mewujutkan suatu kegiatan
yang kondusif. Beberapa kondisi yang diperlukan untuk proses belajar inkuiri
misalnya sebagai berikut:
1. Kondisi
yang fleksibel, bebas
2. Terbuka
untuk berinteraksi.
3. Kondisi
lingkungan yang responsif.
4. Kondisi
yang memudahkan untuk memusatkan perhatian.
5. Kondisi
yang bebas dan tekanan.
Hal- hal tersebut perlu diperhatikan oleh setiap
pengajar untuk dapat menggunakan metode pembelajaran inkuiri yang baik. Setiap
metode pembelajaran pastinya mempunyai suatu kelebihan dan kelemahan.
Menurut Mulyani Sum,antri dan Johar Permana
(2000:143) kelebihan metode pemebelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
1. Siswa
ikut berpartisispasi secaraaktif didalam kegiatan belajarnya, sebab metode
inkuiri menekankan poad proses pengolahan infpormasi pada peserta didik.
2. Siswa
benar-benar dapat memahami suatu konsep dan rumuis, sebab siswa mengalami
sendiri proses untuk mendapatkan konsep atau rumus tersebut.
Metode ini memungkinkan sikap ilmiah dan menimbulkan
semangat ingin tahu para siswa. Dengan menemukan sendiri siswa merasa sangat
puas. Dengan demikian kepuasa mental sebagai nilai intrinsik siswa terpenuhi. Guru
tetap memiliki kontak pribadi. Penemuan yang diperoleh peserta didik dapat
menjadi kepemilikan yang sangan sulit dilupkan.
Melihat pentingnya metode pembelajaran inkuiri yang
mampu untuk mengaktifkan peserta didiknya, maka peran guru sangat penting di
dalamnya. Peran guru dalam metode pembelajaran inkuiri bukan sebagai
narasumber, melainkan sebagai fasilitator.
Peranan Pengajar dalam proses belajar mengajar
dengan pendekatan Inkuiri adalah:
1. pengajar
mampu menstimulasi (memberi rangsangan dan menentang pembelajar untuk
berpikir).
2. Pengajar
mampu memberi dukungan untuk inkuiri.
3. Pengajar
mampu memberikan fleksibilitas (kesempatan dan keluwesan serta kebersamaan
untuk berpendapat, berinisiatif atau berprakarsa) dan bertindak.
4. Pengajar
mampu mendiagnosis kesulitan-kesuhtan pembelajar dan membantu mengatasinya.
5. Pengajar
mampu mengidentifikasi dan menggunakan kemampuan mengajar serta waktu mengajar
dengan sebaik-baiknya.
Metode inkuiri adalah metode pembelajaran dimana
siswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses penemuan, penempatan siswa lebih
banyak belajar sendiri serta mengembangkan keaktifan dalam memecahkan masalah.
Metode mengajar adalah suatu pengetahuan tentang
cara –cara mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur.
Pengertian lain ialah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau
menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secaraindividual
maupun kelompok, agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan
oleh siswa dengan baik. Makin baik metode mengajar, makin efektif pula
pencapaian tujuan (Ahmadi, 2005 : 52)
Proses inquiri adalah suatu proses khusus untuk
meluaskan pengetahuan melalui penelitian. Oleh karena itu metode inquiri
kadang-kadang disebut juga metode ilmiahnya penelitian. Metode inquiri adalah
metode belajar dengan inisiatif sendiri, yang dapat dilaksanakan secara
individu atau kelompok kecil. Situasi inquiri yang ideal dalam kelas matematika
terjadi, apabila murid-murid merumuskan prinsip matematika baru melalui bekerja
sendiri atau dalam grup kecil dengan pengarahan minimal dari guru. Peran utama
guru dalam pelajaran inquiri sebagai metoderator (Sutrisman, Tambunan, 1987 :
6.39).
Metode inquiri pmerupakan metode pengajaran yang
berusaha meletakan dasar dan mengembangkan cara befikir ilmiah. Dalam penerapan
metode ini siswa dituntut untuk lebih banyak belajar sendiri dan berusaha
mengembangkan kreatifitas dalam pengembagnaan masalah yang dihadapinya sendiri.
Metode mengajar inquiri akan menciptakan kondisi belajar yang efektif dan
kundusif, serta mempermudah dan memperlancar kegiatan belajar mengajar
(Sudjana, 2004 : 154).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa metode inquiri dalam penelitian ini adalahsuatu teknik
instruksional dalam proses belajar mengajar siswa diharapkan pada suatu
masalah, dan tujuan utama menggunakan metode inquiri adalah membantu siswa dalam
mengembangkan keterampilan penemuan ilmiah.
Pembelajaran inkuiri menekankan kepada proses
mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran
siswa dalam pembekajaran ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi
pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa
untuk belajar. Pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran
yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses
berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan
siswa. Pembelajaran ini sering juga dinamakan pembelajaran heuristic, yang
berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti “saya menemukan”.
Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi-kondisi umum
yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu : (1)
aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang
mengundang siswa berdiskusi; (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji
kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses
pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana
lazimnya dalam pengujian hipotesis.
Model pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan
setiap pokok bahasan dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya: peserta
didik, tujuan yang akan dicapai, situasi pembelajaran, fasilitas yang tersedia
dan guru. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model
pembelajaran inkuiri
Model Pembelajaran inkuiri adalah model penemuan
yang dirancang guru sesuai kemampuan dan tingkat perkembangan intelektual
peserta didik, mengurangi ketergantungan kepada guru dan memberi pengalaman
seumur hidup. Penemuan sering dikaitkan dengan inkuiri. Penemuan boleh
diartikan sebagai proses mental mengasimilasikan konsep dan prinsip. Penemuan
berlaku apabila seseorang itu menggunakan proses mental dalam usaha mendapatkan
satu konsep atau prinsip.
Model pembelajaran inkuiri menggunakan pendekatan pembelajaran yang
melibatkan proses penelitian. penelitian ini didorong oleh pertanyaan demi
pertanyaan dan membuat penemuan dalam usaha mencari kefahaman atau jawaban yang
baru. Model pembelajaran inkuiri ini didorong oleh sifat ingin tahu dan keinginan
memahami sesuatu ataupun menyelesaikan masalah.
Proses model pembelajaran inkuiri ini bermula dari
satu perhatian dan minat atas sesuatu
yang menarik dan seterusnya akan muncul banyak pertanyaan atas minat tersebut.
Fenomena yang diperhatikan biasanya tidak mempunyai kaitan dengan pengalaman
maupun pemahaman dari para siswa. Sifat ingin tahu seterusnya merangsang
tindakan untuk melakukan penelitian, pertanyaan, ramalan, hipotesa, dan konsep
awal.
Sedangkan asumsi-asumsi yang mendasari metode
inquiri adalah sebagai berikut :
1. Keterampilan
berpikir kritis dan berpikir dedukatif sangat diperlukan pada waktu
mengumpulkan evidensi yang dihubungkan dengan hipotesis yang telah dirumuskan
oleh kelompok
2. Keuntungan para siswa dari
pengalaman-pengalaman kelompok di mana mereka berkomunikasi, berbagai tanggung
jawab dan bersama-sama mencari pengetahuan.
3. Kegiatan-kegiatan belajar yang disajikan dalam
semangat berbagi inquri menambah motivasi dan memajukan partisipasi aktif
(Hamalik, 2003 : 64).
Adapun
syarat-syarat penerapan metode inquiri adalah:
1. Merumuskan
topik inquiri dengan jelas dan bermanfaat bagi siswa
2. Membentuk
kelompok yang seimbangn, baik akademik maupun social
3. Menjelaskan
tugas dan menyediakan balikan kepada kelompok-kelompok dengan cara yang
responsif dan tepat waktunya.
4. Sekali-kal
perlu intervensi oleh guru agar terjadi interaksi antarpribadi yang sehat dan
demi kemajuan tugas.
5. Melaksanakan
penilaian terhadap kelompok, baik terhadap kemajuan kelompok maupun terhadap
hasil-hasil yang dicapai (Hamalik, 2004 : 65).
Sedangkan menurut pendapat Sudjana (2004 : 155)
dalam menerapkan metode inquiri ada beberapa tahapan yaitu :
1. Perumusan
masalah untuk dipecahkan siswa
2. Menetapkan
jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis
3. Siswa
mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan atau
hipotesis
4. Menarik
kesimpulan jawaban atau generalisasi
5. Mengaflikasikan
kesimpulan/generalissi dalam situasi baru.
Penerapan metode inquiri dalam proses belajar
mengajar menuntut keaktifan siswa dalam belajar individu, maupun kelompok.
Mereka harus memahami dan menyelesaikan soal-soal yang terkait dengan himpunan
bagian.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Model Pembelajaran Inquiry
Inquiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Ia
menambahkan bahwa pembelajaran inquiri ini bertujuan untuk memberikan cara bagi
siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir)
terkait dengan proses-proses berpikir reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan
utama dari pendidikan, maka harus ditemukan cara-cara untuk membantu individu
untuk membangun kemampuan itu.
Selanjutnya Sanjaya (2008;196)
menyatakan bahwa ada beberapa hal yang
menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri. Pertama, strategi inkuiri
menekankan kepada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan,
artinya pendekatan inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam
proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran
melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan
sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Kedua, seluruh aktivitas yang
dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang
dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self
belief). Artinya dalam pendekatan inquiri menempatkan guru bukan sebagai sumber
belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktvitas
pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan
siswa, sehingga kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan
syarat utama dalam melakukan inkuiri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi
pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian
dari proses mental, akibatnya dalam pembelajaran inquiri siswa tidak hanya
dituntut agar menguasai pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan
potensi yang dimilikinya.
Salah satu model pembelajaran yang
menjadi andalan dalam pembelajaran bahasa inggris adalah inquri. Pembelajaran
berbasis inquiri (inquiry-base instruction) adalah pembelajaran yang
menggunakan langkah-langkah ilmiah sebagai skenario pembelajaran. Dalam model
pembelajaran ini menguasai konsep pengetahuan melalui upaya menjawab pertanyaan
melalui. Upaya dilakukan melalui proses eksplorasi, pengolahan data dan
menyusun kesimpulan.
Inquiri (Inquiry) didefinisikan
sebagai sebuah pencarian kebenaran, informasi/ pengetahuan, atau pencarian
informasi dengan cara mempertanyakan dan melakukan upaya menjawab
pertanyaan dimaksud. Alfred Novak
(Haury, 1993) mendefinikan bahwa inquiry
merupakan usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena
yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan
aktivitas dan keterampilan aktif pencarian pengetahuan untuk memuaskan rasa
ingin tahu (Haury, 1993).
Pada dasarnya inquiri adalah perilaku yang melekat erat
pada sifat manusia. Setiap orang melakukan proses inquiri sejak ia lahir sampai
meninggal. Hal itu sangat nyata meskipun tidak menyadarinya. Seorang bayi
misalnya, melakukan inquiri ketika mengenali wajah yang mendekat, memegang
objek, meletakkan benda di mulut, dan menoleh kea rah suara. Demikian juga pada anak-anak. Dalam benak mereka selalu
timbul pertanyaan dan diikuti oleh upaya untuk menjawabnya. Ketika seorang anak
umur 4 tahun melihat sebuah mainan maka ia ingin sekali mengetahui seperti apa
mainan tersebut dan selalu ingin membongkarnya sebagai upaya mengetahuinya.
Tidak heran kalau pada usia tersebut mainan jarang awet. Seiring meningkatnya
usia anak, semakin banyak pula pertanyaan mengenai fenomena yang ditemui dalam
keseharian. Sayangnya ketika anak tumbuh lebih besar upaya untuk menjawab
pertanyaan terhambat dengan kekhawatiran dan keterbatasan. Ketika seorang siswa
usia 12 tahun ingin tahu mengapa telivisi dapat menayangkan gambar hidup,
mereka terbentur oleh keterbatasan kemampuan dan sarana untuk mengetahuinya.
Ketika hal ini sering terjadi maka kemampuan melakukan inquiri pada anak-anak
kurang berkembang hingga dewasa. Dengan alasan itulah maka inquiri harus
dijadikan model utama khususnya dalam pemblajaran bahasa inggris.
Melalui model inquiri siswa dilatih
untuk menerapkan proses ilmiah. Mereka harus mengambil kesimpulan sendiri
berdasarkan hasil olah data yang diperolehnya. Dalam model ini siswa dilatih
untuk memahami sesuatu secara mendalam dengan cara menemukannya sendiri. Dengan
menemukan sendiri siswa tidak sekedar belajar untuk mengingat melainkan
memahaminya.
Menurut National Science Education
Standards (Sebuah Standar Pendidikan Sain di Amerika) inquiry instruction
adalah sebuah pembelajaran yang melibatkan siswa dalam sebuah kegiatan
mempertanyakan, analisis data, dan berpikir kritis. Dalam sebuah dokumen
disubutkan: "Students at all grade levels and in every domain of science
should have the opportunity to use scientific inquiry and develop the ability
to think and act in ways associated with inquiry, including asking questions,
planning and conducting investigations, using appropriate tools and techniques
to gather data, thinking critically and logically about relationships between
evidence and explanations, constructing and analyzing alternative explanations,
and communicating scientific arguments" (NRC 1996, p. 105). Dalam
dokumen tersebut ditegaskan bahwa dalam pembelajaran inquiri siswa semua
tingkatan mendapatkan kesempatan untuk berlatih penelitian untuk mengembangkan
kemempauan berpikir dan berperilaku ilmiah termasuk didalamnya mengajukan
pertanyaan, merencanakan dan melakukan penelitian, menggunakan alat dan teknik
pengumpul data, berpikir kritis, berpikir logis mengenai hubungan antar bukti
dan penejelasan, membangun dan menganalisis penjelasan serta mengkomunikasikan
argumen secara ilmiah.
Model pembelajaran Inquiri
merupakan sebuah kegiatan belajar dimana siswa menjawab pertanyaan penelitian
melalui metode ilmiah. Kegiatan inquiri yang paling otentik adalah ketika siswa
menjawab pertanyaan yang diajukan sendiri melalui analisis data yang
dikumpulkannya sendiri secara independent. Meskipun begitu masih tergolong
inquiri ketika kegiatan berbentuk menjawab pertanyaan dan mengloha data yang
telah tersedia, sepanjang siswa tetap melakukan analisis dan merumuskan
kesimpulan secara mandiri. Jadi ciri utama pembelajaran inquiri adalah pada
kegiatan analisis data yang diperoleh melalui kegiatan esplorasi.
Metode inquiri pmerupakan metode pengajaran yang
berusaha meletakan dasar dan mengembangkan cara befikir ilmiah. Dalam penerapan
metode ini siswa dituntut untuk lebih banyak belajar sendiri dan berusaha
mengembangkan kreatifitas dalam pengembagnaan masalah yang dihadapinya sendiri.
Metode mengajar inquiri akan menciptakan kondisi belajar yang efektif dan
kundusif, serta mempermudah dan memperlancar kegiatan belajar mengajar
(Sudjana, 2004 : 154).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa metode inquiri dalam penelitian ini adalahsuatu teknik
instruksional dalam proses belajar mengajar siswa diharapkan pada suatu
masalah, dan tujuan utama menggunakan metode inquiri adalah membantu siswa
dalam mengembangkan keterampilan penemuan ilmiah.
Pembelajaran inkuiri menekankan kepada proses
mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran
siswa dalam pembekajaran ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi
pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa
untuk belajar. Pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran
yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses
berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan
siswa. Pembelajaran ini sering juga dinamakan pembelajaran heuristic, yang
berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti “saya menemukan”.
Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi-kondisi umum
yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu : (1)
aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang
mengundang siswa berdiskusi; (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji
kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses
pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana
lazimnya dalam pengujian hipotesis.
Model pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan
setiap pokok bahasan dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya: peserta
didik, tujuan yang akan dicapai, situasi pembelajaran, fasilitas yang tersedia
dan guru. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model
pembelajaran inkuiri
Model Pembelajaran inkuiri adalah model penemuan
yang dirancang guru sesuai kemampuan dan tingkat perkembangan intelektual
peserta didik, mengurangi ketergantungan kepada guru dan memberi pengalaman
seumur hidup. Penemuan sering dikaitkan dengan inkuiri. Penemuan boleh
diartikan sebagai proses mental mengasimilasikan konsep dan prinsip. Penemuan
berlaku apabila seseorang itu menggunakan proses mental dalam usaha mendapatkan
satu konsep atau prinsip.
Model pembelajaran inkuiri menggunakan pendekatan pembelajaran yang
melibatkan proses penelitian. penelitian ini didorong oleh pertanyaan demi
pertanyaan dan membuat penemuan dalam usaha mencari kefahaman atau jawaban yang
baru. Model pembelajaran inkuiri ini didorong oleh sifat ingin tahu dan
keinginan memahami sesuatu ataupun menyelesaikan masalah.
B. Tokoh yang Mengembangkan Model
Pembelajaran dengan Sistim Inquiry
Inquiri adalah model pembelajaran yang dikembangkan
oleh seorang tokoh yang bernama Schuman.
Schuman meyakini bahwa anak-anak merupakan individu yang penuh dengan rasa
ingin tahu akan segala sesuatu. Gulo (2002) menyatakan strategi inkuiri berarti
suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan siswa untuk mencari dan
menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat
merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh rasa percaya diri.
Model inkuiri didefinisikan oleh Piaget (Sund dan Trowbridge, 1973)
sebagai: Pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan
eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin
melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari jawaban atas
pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain,
membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain.
Kuslan
Stone (Dahar,1991) mendefinisikan model inkuiri sebagai
pengajaran di mana guru dan anak mempelajari peristiwa-peristiwa dan gejala-gejala
ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para ilmuwan. Pengajaran berdasarkan inkuiri
adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa di mana kelompok-kelompok siswa
dihadapkan pada suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang
digariskan secara jelas (Hamalik, 1991).
Wilson (Trowbridge, 1990)
menyatakan bahwa model inkuiri adalah sebuah model proses pengajaran yang
berdasarkan atas teori belajar dan perilaku. Inkuiri merupakan suatu cara
mengajar murid-murid bagaimana belajar dengan menggunakan keterampilan, proses,
sikap, dan pengetahuan berpikir rasional (Bruce & Bruce, 1992). Senada
dengan pendapat Bruce & Bruce , Cleaf (1991) menyatakan bahwa inkuiri
adalah salah satu strategi yang digunakan dalam kelas yang berorientasi proses.
Inkuiri merupakan sebuah strategi pengajaran yang berpusat pada siswa, yang
mendorong siswa untuk menyelidiki masalah dan menemukan informasi. Proses
tersebut sama dengan prosedur yang digunakan oleh ilmuwan sosial yang
menyelidiki masalah-masalah dan menemukan informasi.
Sementara itu, Trowbridge
(1990) menjelaskan model inkuiri sebagai proses mendefinisikan dan
menyelidiki masalah-masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen,
menemukan data, dan menggambarkan kesimpulan masalah-masalah tersebut. Lebih
lanjut, Trowbridge mengatakan bahwa esensi dari pengajaran inkuiri adalah
menata lingkungan/suasana belajar yang berfokus pada siswa dengan memberikan
bimbingan secukupnya dalam menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmiah.
Senada dengan pendapat Trowbridge, Amien (1987) dan Roestiyah (1998) mengatakan bahwa
inkuiri adalah suatu perluasan proses discovery yang digunakan dalam cara yang
lebih dewasa. Sebagai tambahan pada proses discovery, inkuiri mengandung proses
mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan masalah, merancang
eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik
kesimpulan, menumbuhkan sikap objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan
sebagainya.
Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi
pembelajaran inkuiri. Wina Sanjaya
membaginya menjadi tiga ciri utama, yakni: Srategi inkuiri menekankan pada
aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, Seluruh aktivitas
yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari
sesuatu yang dipertanyakan, dan tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran
inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan
kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses
mental
Wina Sanjaya menyatakan bahwa tujuan utama
pembelajaran menggunakan strategi inkuiri adalah menolong siswa untuk dapat
mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan
pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu
mereka.
.
C. Ciri-Ciri Model Pembelajaran dengan
Sistim Inquiry
Model
inquiri mengarah ke pembelajaran yang menggunakan materi ajar sebagai sebuah
kendaraan untuk membangun kemampuan ilmiah. Model inquiri bersifat student centered dan guru bertindak
sebagai fasilitator belajar. Model ini menekankan kepada how we come to know
(bagaimana cara mengetahuinya); bukan kepada what we know (apa yang harus
diketahui). Dalam model ini siswa terlibat dalam mengkonstruksi pengetahuan
melalui keterlibatan dalam belajar.
Randy L. Bell, Lara Smetana dan Ian
Binns (Haury, 1993), menegaskan bahwa pertanyaan petama yang harus diajukan untuk menentukan
bahwa sebuah pembelajaran dapat digolongkan inquiri atau tidak adalah: Apakah
siswa menjawab pertanyaan penelitian melalui proses analisis data? Kalau
jawabannya “ya” berarti kegiatan dapat digolongkan pembelajaran berbasis
inquiri. Kalau tidak maka belum dapat digolongkan pembelajaran berbasis
inquiri. Pembelajaran dalam bentuk kegiatan penelitian yang hanya berbentuk
kajian pustaka atau brosing informasi melalui internet belum dapat dikatakan
pembelajaran berbasisi inquiri. Dalam pembelajaran tersebut siswa hanya
mengumpulkan informasi namun tidak melakukan analisis data untuk menjawab
pertanyaan yang diajukan.
Perbedaan penting antara model
pembelajaran inquiri dengan yang lainnya antara lain, pada model pembelajaran
lain lebih cenderung kepada learning about things (belajar tentang sesutu);
sedangkan pada model pembelajaran inquiri pembelajaran cenderung kearah
learning things (mempelajari sesutu). Cara lain untuk membedakan keduanya
adalah melalui kalimat thinking what (berpikir apa) sebagai kebalikan dari thinking how (berpikir
bagaimana). Pembelajaran Inkuiri cenderung pada thinking how.
Beberapa ciri dari
model pembelajaran inquiri dapat dilihat dalam rincian berikut:
A. Siswa
berpandangan bahwa dirinya sebagai pemelajar . Mereka menampakkan sikap
semangat, berupaya untuk bekerja sama baik dengan guru maupun dengan teman,
lebih percaya diri dalam belajar, menampakkan kehendak untuk memperbaharui ide
dan berani mengambil risiko dan selalu skeptis.
B. Siswa
selalu menerima inovasi dalam belajar dan memiliki keinginan untuk selalu
terlibat dalam proses esplorasi. Siswa selalu bergerak, menggunakan bahan dan
materi yang tersedia, selalu berdialog dengan orang lain, serta selalu mencoba
ide berbeda
C. Siswa
mengajukan pertanyaan, mengusulkan penjelasan dan menggunakan teknik pengamatan
kritis untuk mengumpulkan fakta, menyambungkan ide satu dengan lainnya.
D. Siswa
merancang rencana dan melaksanakan kegiatan belajar. Mereka merancang prosedur
untuk menguji ide dengan cara menggunakan bahan-bahan, mengobservasi,
mengumpulkan data, mengolah data, memutuskan mana yang penting dan mana yang
tidak, melihat persamaan dan perbedaan dan menyusun kesimpulan.
E. Siswa
berkomunikasi menggunakan berbagai metode. Mereka menyatakan ide malalui
berbagai cara termasuk jurnal, gambar, laporan, gerafik dan lainnya. Mereka
mendengarkan, berbicara dan menuliskan ppeoses dan hasil belajar dengan orang
tua, guru, taman dan menggunakan bahasa
yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari.
F. Siswa
mengkritisi cara belajar dengan cara mengenali dan mendiskusikan kekuatan dan
kekurangn serta melakukan refleksi bersama guru dan teman.
Pendapat lain mengenai cirri-ciri
pembelajaran dengan sistim inquiry yaitu:
1.
Pembelajaran inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa
secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya, pada pembelajaran inkuiri
menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran,
siswa tidak hanya berperan sebagai penerima materi pelajaran melalui penjelasan
guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari
materi pelajaran itu sendiri.
2.
Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk
mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga
diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Dengan
demikian, pada pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai satu-satunya
sumber belajar, tetapi lebih diposisikan sebagai fasilitator dan motivator belajar
siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses
tanya jawab antara guru dan siswa. Karena itu kemampuan guru dalam menggunakan
teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri. Guru dalam
mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor,
konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan
merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok.
3.
Tujuan dari pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara
sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan
intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam
pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai materi
pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang
dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu dapat
mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal. Sebaliknya, siswa akan dapat
mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala ia bisa menguasai materi
pelajaran.
D.
Tujuan
dan Sasaran Utama Model Pembelajaran dengan Sistim Inquiry
Tujuan utama pembelajaran menggunakan strategi
inkuiri adalah menolong siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual
dan keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan
mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka.
Sasaran utama kegiatan pembelajaran dengan sistim Inquiry:
1. Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses
kegiatan belajar
2. Keterarahan kegiatan
secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran 3. Mengembangkan sikap percaya diri pada siswa
tentang apa yang ditemukan dalam proses
inkuiri.
E. Macam-macam Pembelajaran Inquiry
Pendekatan
inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru
terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada
siswanya. Ketiga jenis pendekatan inkuiri tersebut adalah:
1. Inkuiri
Terbimbing (guided inquiry approach)
Pendekatan
inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa
melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu
diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan
tahap-tahap pemecahannya. Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi
siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Dengan
pendekatan ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari
guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan ini
siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik
melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan
masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.
Pada dasarnya siswa selama proses
belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada
tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan, kemudian pada tahap-tahap
berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses
inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa
pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar
dapat memahami konsep pelajaran matematika. Di samping itu, bimbingan dapat
pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama
berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa,
sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafolding
yang diperlukan oleh siswa.
2. Inkuiri
Bebas (free inquiry approach).
Pada
umumnya pendekatan ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar
dengan pendekatan inkuiri. Karena dalam pendekatan inkuiri bebas ini
menempatkan siswa seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi
kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan menyelesaikan
masalah secara mandiri, merancang prosedur atau langkah-langkah yang
diperlukan.
Selama proses ini, bimbingan dari guru
sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak diberikan sama sekali. Salah satu
keuntungan belajar dengan metode ini adalah adanya kemungkinan siswa dalam
memecahkan masalah open ended dan mempunyai alternatif pemecahan masalah lebih
dari satu cara, karena tergantung bagaimana cara mereka mengkonstruksi
jawabannya sendiri. Selain itu, ada kemungkinan siswa menemukan cara dan solusi
yang baru atau belum pernah ditemukan oleh orang lain dari masalah yang
diselidiki.
Sedangkan belajar dengan metode ini
mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
1. waktu
yang diperlukan untuk menemukan sesuatu relatif lama sehingga melebihi waktu
yang sudah ditetapkan dalam kurikulum
2. karena diberi kebebasan untuk menentukan
sendiri permasalahan yang diselidiki, ada kemungkinan topik yang diplih oleh
siswa di luar konteks yang ada dalam kurikulum
3. ada
kemungkinan setiap kelompok atau individual mempunyai topik berbeda, sehingga
guru akan membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa hasil yang diperoleh
siswa
4. karena
topik yang diselidiki antara kelompok atau individual berbeda, ada kemungkinan
kelompok atau individual lainnya kurang memahami topik yang diselidiki oleh
kelompok atau individual tertentu, sehingga diskusi tidak berjalan sebagaimana
yang diharapkan
3. Inkuiri
Bebas yang Dimodifikasikan ( modified free inquiry approach)
Pendekatan
ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri
sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas.
Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap
diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam
pendekatan ini siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk
diselidiki secara sendiri, namun siswa yang belajar dengan pendekatan ini
menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan.
Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak
terstruktur.
Dalam
pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi bimbingan, agar siswa
berupaya terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa dapat
menemukan sendiri penyelesaiannya. Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat
menyelesaikan permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara tidak
langsung dengan memberikan contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan yang
dihadapi, atau melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.
Berdasarkan pengertian dan uraian dari ketiga
jenis pembelajaran dengan pendekatan inkuiri, penulis memilih Pendekatan
Inkuiri Terbimbing yang akan digunakan dalam penelitian ini. Pemilihan ini
penulis lakukan dengan pertimbangan bahwa penelitian yang akan dilakukan terhadap
siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP), dimana tingkat perkembangan
kognitif siswa masih pada tahap peralihan dari operasi konkrit ke operasi
formal, dan siswa masih belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri
serta karena siswa masih dalam taraf belajar proses ilmiah, sehingga penulis
beranggapan pendekatan inkuiri terbimbing lebih cocok untuk diterapkan.
Selain itu, penulis berpendapat
bahwa pendekatan inkuiri bebas kurang sesuai diterapkan dalam pembelajaran
matematika, karena dalam proses pembelajaran matematika topik yang diajarkan
sudah ditetapkan dalam silabus kurikulum matematika, sehingga siswa tidak perlu
mencari atau menetapkan sendiri permasalahan yang akan dipelajari.
Menurut
Herron (1971), ada empat tingkatan inquiri. Tingkatan ini didasarkan kepada
intensitas belajar yang dialami oleh siswa. Keepat tingkatan dimaksud adalah
sebagai berikut:
A. Confirmation/Verification
– siswa menegaskan prinsip melalui kegiatan yang telah ditentukan. Tingkatan
ini dilakukan ketika prinsip yang harus dipelajari akan dilanjutkan kemudian di
tingkat berikutnya.
B. Structured Inquiry
– siswa melakukan penelitian menggunakan prosedur yang ditentukan guru untuk
menjawab pertanyaan penelitian yang telah disediakan.
C. Guided Inquiry
- siswa melakukan penelitian menggunakan prosedur yang dirancang sendiri untuk
menjawab pertanyaan yang telah disediakan guru.
D. Open Inquiry
– siswa merumuskan sendiri pertanyaan penelitian dan merancang proseduru
sendiri untuk menjawabnya.
F. Langkah-Langkah yang Dilakukan
dalam Proses Pembelajaran dengan Sistim Inquiry
Pembelajaran
inquiri mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Orientasi
Pada
tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran
yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:
a.
Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil
belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
b.
Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang
harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah
inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan
masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan
c.
Menjelaskan pentingnya topik dan
kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar
siswa
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan
langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan
yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki
itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong
untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat
penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut
siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya
mengembangkan mental melalui proses berpikir.
3. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara
dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu
diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk
mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan
mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat
merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan
kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas
menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.
Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang
sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan
hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan
ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan
jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh
berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan
kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan
hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang
ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses
mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada
siswa data mana yang relevan.
Alasan rasional penggunaan
pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah bahwa siswa akan mendapatkan
pemahaman yang lebih baik mengenai matematika dan akan lebih tertarik terhadap matematika
jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” penyelidikan. Investigasi
yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung pembelajaran dengan
pendekatan inkuiri. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep
matematika dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Sehingga
diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berpikir ilmiah
tersebut.
Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri yang mensyaratkan keterlibatan aktif
siswa diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap
pelajaran matematika, khususnya kemampuan pemahaman dan komunikasi matematis
siswa. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang berupaya menanamkan
dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran
ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam
memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar,
peranan guru dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah sebagai
pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu
disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa
masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah
menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah.
Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap
kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi.
Dalam mengembangkan sikap inquiri di kelas,
guru mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan dan teman yang kritis. Guru
harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok melalui tiga
tahap:
1. Tahap
problem solving atau tugas
2. Tahap pengelolaan kelompok
3. Tahap
pemahaman secara individual, dan pada saat yang sama guru sebagai instruktur
harus dapat memberikan kemudahan bagi kerja kelompok, melakukan intervensi
dalam kelompok dan mengelola kegiatan pengajaran.
G. Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Inquiry
Dalam
proses belajar mengajar, metode pembelajaran inquiry mememili beberapa prinsip
yang digunakan, yaitu:
1. Berorientasi pada Pengembangan Intelektual .
Tujuan utama dari
strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir.
2. Interaksi
Proses pembelajaran
pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun
interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan.
3. Bertanya
Peran guru yang harus
dilakukan dalam menggunakan strategi ini adalah guru sebagai “penanya”.
4. Belajar
untuk berfikir
Belajar adalah proses
berpikir yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak secara optimal.
5. Keterbukaan
Pembelajaran
yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai
hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. secara terbuka
H. Karateristik Pembelajaran Inquiry
1. Koneksi
Proses
koneksi melalui : konsiliasai, pertanyaan, dan observasi. Siswa mampu menghubungkan
pengetahuan pribadi dengan konsep komunitas . Dilakukan dengan diskusi bersama,
eksplorasi fenomena.
Guru mendorong untuk
mendiskusikan dan menjelaskan pemahaman mereka bagaimana suatu fenomena
bekerja, menggunakan contoh dari pengalaman pribadi, menemukan hubungan dengan
literature.
2. Desain
Proses
desain melalui prosedur materi. Siswa membuat perencanaan mengumpulkan data
yang bermakana yang ditujukan pada pertanyaan. Disini terjadi integrasi konsep
dengan proses .Guru memantau ketepatan aktifitas siswa.
3. Investigasi
Proses
melalui koleksi dan mempresentasikan data. Siswa dapat membaca data secara
akurat, mengorganisasi data dengan cara yang logis dan bermakna, dan
memperjelas hasil penyelidikan.
4. Membangun
pengetahuan
Proses
melalui reflektif – konstruksi – prediksi. Konsep yang dilakukan dengan
eksperimen akan memberi arti yang lebih bermakna dan mampu berfikir kritis. Ia
harus menghubungkan antara interpretasi ilmiah yang diterima.Siswa dapat
mengaplikasikan pemahamannya pada situasi baru yang mengembangkan inferensi,
generalisasi, dan prediksi. Guru bertukar pendapatterhadap pemahaman siswa.
I. Kesulitan/Hambatan dalam Proses
Pembelajaran Inquiry
Strategi
Pembelajaran Inkuiri merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dianggap
baru khususnya di Indonesia. Sebagai suatu strategi baru, dalam penerapannya
terdapat beberapa kesulitan :
1. Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan
strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses berpikir yang bersandarkan
kepada dua sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil belajar.
2. Sejak
lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah
menerima materi pelajaran dari guru, dengan demikian bagi mereka guru adalah
sumber belajar yang utama.
3. Berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang
dianggap tidak konsisten.
3.
J. Keunggulan dan Kekurangan model
Pembelajaran dengan sistim Inquiry
1. Keunggulan
a. Strategi
Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada
pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga
pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
b. Strategi
Pembelajaran Inkuiri dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai
dengan gaya belajar mereka.
c. Strategi
Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan
perkembangan psikologi belajar modern yang mengaggap belajar adalah proses
perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman
d. Strategi
pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas
rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan
e. .
belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
e.
2. Kelemahan
jika
Strategi Pembelajaran Inkuiri digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka
akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
a. Strategi
ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan
kebiasaan siswa dalam belajar.
b. Kadang-kadang
dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering
guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan
c. Selama
kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi
pelajaran, maka Strategi Pembelajaran Inkuiri akan sulit diimplementasikan oleh
setiap guru.
d. Diperlukan
keharusan kesiapan mental untuk cara belajar.
Dengan
percaya diri yang kuat. Pembelajar harus mampu menghilangkan hambatan.
e. Kalau
pendekatan inkuiri diterapkan dalam kelas dengan jumlah pembelajar yang besar,
kemungkinan besar tidak berhasil. misalnya sebagian waktu hilang karena
membantu siswa menemukan teori-teori atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk
kata-kata tertentu.
f. Pembelajar yang terbiasa belajar dengan
pengajaran tradisional yang telah dirancang pengajar, biasanya agak sulit untuk
memberi dorongan. Lebih-lebih kalau harus belajar mandiri. Dampaknya dapat
mengecewakan pengajar dan pembelajar sendiri
g. Lebih mengutamakan dan mementingkan
pengertian, sikap dan keterampilan member kesan terlalu idealis. Ada kesan
dananya terlalu banyak, lebih-lebih kalau penemuannya kurang berhasil, hanya
merupakan suatu pemborosan belaka .
h. Adanya keharusan persiapan mental untuk cara belajar ini, (2)
Pembelajaran ini kurang berhasil dalam kelas besar
i.
Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini
mungkin mengecewakan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pembelajaran
secara tradisional jika guru tidak menguasai pembelajaran inkuiri.
K.
Manfaat
yang diperoleh dari Pengembangan Perubahan model Pembelajaran dengan Sistim
Inquiry
Manfaat dari penggunaan metode pembelajaran inkuiri
dapat dilihat sebagai berikut:
1. Pengajaran
berpusat pada diri pembelajar
Salah
satu prinsip psikologi belajar menyatakan bahwa makin besar dan makin sering
keterlibatan pembelajar dalam kegiatan makin besar baginya untuk mengalami
proses belajar. Dalam proses belajar inkuiri, pembelajar tidak hanya belajar
konsep dan prinsip, tetapi juga mengalami proses belajar tentang pengarahan
diri, pengendalian diri, tanggung jawab dan komunikasi sosial secara terpadu.
2. Pengajaran
inkuiri dapat membentuk self concept (konsep diri), sehingga terbuka terhadap
pengalaman-pengalaman baru, lebih kreatif, berkeinginan untuk selalu mengambil
kesempatan yang ada dan pada umumnya memiliki mental yang sehat.
3. Tingkat
pengharapan bertambah
yaitu
ada kepercayaan diri serta ide tertentu bagaimana ia dapat menyelesaikan suatu
tugas dengan caranya sendiri.
4. Pengembangan
bakat dan kecakapan individu
Lebih banyak kebebasan dalam proses belajar
mengajar berarti makin besar kemungkinannya untuk mengembangkan kecakapan,
kemampuan dan bakat-bakatnya.
5. Dapat
memberi waktu kepada pembelajar untuk mengasimilasi dan mengakomodasi
informasi. Belajar yang sesungguhnya yaitu jika pembelajar bereaksi dan
bertindak terhadap informasi melalui proses mental.
6. Dapat
menghindarkan pembelajar dari cara-cara belajar tradisional.
Jerome Bruner, melihat
beberapa segi keuntungan dari pendekatan penentuan:
a. Pembelajar akan memahami konsep-konsep dasar
dan ide-ide lebih banyak dan lebih baik.
b. Membantu
pembelajaran menggunakan ingatan dan
transfer pada situasi proses belajar yang baru. Mendorong pembelajar berpikir
dan bekerja atas inisiatifnya sendiri .
c. Mendorong (memotivasi) pembelajar berpikir dan
merumuskan hipotesis serta membuktikannya melalui proses belajar.
d. Memberi
kepuasan yang bersifat instrinsik
e. Situasi proses belajar menjadi lebih
merangsang
f. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh
bersifat merangsang kegairahan belajar.
Menurut
Suryobroto (2002:201), ada beberapa manfaat pembelajaran inkuiri antara lain :
1. Membantu
siswa me-ngembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan keterampilan
dan proses kognitif siswa
2. Membangkitkan
gairah pada siswa misalkan siswa merasakan jerih payah penyelidikannya,
menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan
3. Memberi
kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuan
4. Membantu memperkuat pribadi siswa dengan
bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses Penemuan
5. Siswa terlibat langsung dalam belajar sehingga
termotivasi untuk belajar
6. Strategi
ini berpusat pada anak, misalkan memberi kesempatan kepada anak didik dan guru berpartisipasi sebagai sesama dalam
mengecek ide. Guru menjadi teman
belajar, terutama dalam situasi penemuan yang jawabanya belum diketahui.
.
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Metode
Inkuiri memungkinkan para peserta didik menemukan sendiri informasi-informasi
yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya, karena Metode Inkuiri
melibatkan peserta didik dalam proses-proses mental untuk penemua suatu konsep
berdasarkan informasi-informasi yang diberikan guru.
Menurut
Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2000:143) kelebihan metode pemebelajaran
inkuiri adalah sebagai berikut:
1. Siswa
ikut berpartisispasi secaraaktif didalam kegiatan belajarnya, sebab metode
inkuiri menekankan poad proses pengolahan infpormasi pada peserta didik.
2. Siswa
benar-benar dapat memahami suatu konsep dan rumuis, sebab siswa mewngakanmi
sendiri proses untuk mendapatkan konsep atau rumus tersebut.
3. Metode
ini memungkinkan sikap ilmiah dan menimbulakan semangat ingintahu para siswa.
4. Dengan
menemukan sendiri siswa merasa sanbgat puas dengasn demikian kepuasa mental
sebagai nilai intrinsik siswa terpenuhi.
5. Guru
tetap memiliki kontak pribadi.
Penemuan yang diperoleh
peserta didik dapat menjadi kepemilikan yang sangan sulit dilupkan.
Kelemahan Metode
Inkuiri menurut Fat Hurrahman (2008) adalah:
1. persiapan
dan pelaksanaannya memakan waktu yang cukup lama. metode ini tidak efektif bila
tidak ditunjang dengan peralatan yang lengkap sesuai dengan kebutuhan.
2. Sukar
dilaksanakan bila siswa belum matang kemampuan untuk melaksanakannya.
4.2 SARAN
Saran
untuk para guru jika menggunakan strategi pembelajaran iunkuiri harus mengikuti
prosedur yang ada dan harus disesuaikan dengan waktu yang diimiliki, karena
strategi pembelajaran inkuiri ini sangat membutuhkan waktu yang panjang.
Tujuan
dari metode pembelajaran inquiri adalah memperbaiki pendidikan pengajar dan
untuk peningkatan peristiwa kegiatan belajar mengajar. Seorang pengajar
hendaknya dapat mengembangkan proses inkuiri dengan memusatkan pada
masalah-masalah yang perlu dipecahkan oleh peserta didik. Orientasi guru ialah
“memandang” peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi yang perlu
dikembangkan. Pengajar selalu mengutamakan pertumbuhan dan peningkatan kognitif
dan perkembangan kreativitas peserta didik. Mengajar bertujuan mengembangkan
bakat-bakat dan membantu peserta didik mengembangkan konsep dirinya.
Sebagai seorang
pengajar yang provisional seorang guru haruslah mampu membangkitkan peserta
didik untuk dapat berfikir kritis, mandiri dan ilmiah. Sehingga, peserta didik
mempu menggali sendiri hal-hal yang belum ia mengeti. Kemudian dia mendapatkan
pengalaman empiris dari proses belajarnya. Akhirnya peserta didik akan mampu
dan akan lebih terbiasa untuk memecahkan permasalahannya sendiri. Berarti,
fungsi guru sebagai fasilitator dalam kelas telah terlaksana dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Umar,
T dan La Sulo,.SL.(2005). Pengantar
pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Agus.2010.Pendekatan Inquiri Dalam Mengajar,
(http://agus.blogchandra.com/ pendekatan-inquiri- dalam-mengajar/, diakses
tanggal 13 Oktober 2010).
Mazrawul84.2010.Pengertian Metode Inkuiri dan Metode Demonstrasi
Dalam Pembelajaran Sekolah, (http://mazrawul84.wordpress.com/2010/04/19/
pengertian-metode-inkuiri-dan-metode-demonstrasi-dalam-pembelajaran-sekolah/,
diakses tanggal 13 Oktober 2010).
Umar,
T dan La Sulo,.SL.(2005). Pengantar
pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
http://pedulidenganmenulis.blogspot.com/2013/01/konsep-dasar-strategi-pembelajaran.html/Diakses Sabtu, 23 November 2013, 14:20.
http://cumanulisaja.blogspot.com/2012/10/pengertian-metode-inkuiri.html/Diakses Sabtu, 23 November 2013, 14:25.
http://aldhoportofolio.blogspot.com/2009/05/strategi-pembelajaran-inquiry.html/Diakses Senin 25 November 2013, 09:15.
No comments:
Post a Comment