Makalah
ini saya dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Micro Teaching.
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam
proses pendidikan insan manusia merupakan unsur yang sangat diperlukan guna
terselenggaranya pendidikan yang efektif dan efisien , kedua unsur tersebut
adalah pendidik dan anak didik.
Anak
didik dengan istilah peserta didik, dalam UU No 20 tahun 2003 menyatakan
peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi
diri melalui proses pembelajaran yang
tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Begitu
juga dengan pendidik yang disebut dengan guru atau dosen dalam UU No 20 tahun
2003 tentang sistem pendidikan nasional dikatakan pendidik adalah tenaga
kependidikan yang berkualitas sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan
kekhusussanya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Dalam
rangka pengembangan sumber daya manusia Indonesia
, peran guru yang profesional
punya andil dalam mewujudkannya. Mengingat pentingnya pemahaman tentang fungsi
, tugas dan tanggungjawab guru, maka
dalam makalah ini akan dibahas mengenai fungsi , tugas dan tanggungjawab guru untuk menciptakan
penddidkan yang lebih baik.
B. Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui apa itu guru
2.
Untuk
mengetahui apa saja kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru
3.
Untuk
mengetahu keterampilan guru dalam mengajar
4.
Untuk
mengatahui fungsi guru
5.
Untuk
mengetahui tugas-tugas seorang guru
6.
Untuk
mengetahui tanggung jawab seorang guru
C. Manfaat
Tulisan
Adapun
manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut:
1.
Menggugah
guru yang membacanya untuk mengabdikan diri secara tulus pada profesinya.
2.
Menjadi
salah satu sarana untuk mengajak guru agar meningkatkan kompetensinya sehingga
dapat menjadi guru yang profesional dan berprestasi.
3.
Menjadi
sarana bagi calon guru untuk mengetahui tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab
sebagai guru
4.
Menjadi
sebuah wadah bagi penulis untuk menuangkan ide-ide yang dimilikinya sebagai
salah satu bentuk aktualisasi diri, perwujudan sebuah pengabdian dan kecintaan
terhadap profesi guru untuk dibagikan kepada pembaca.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Guru
Guru
merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik didik
pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Secara
definisi sebutan guru tidak termuat dalam UU No. 20 ntahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (sisdiknas). Didalam UU No. 20 tahin 2003; kata guru
dimasukkan dalam enus pendidik. Sesungguhnya guru dan pendidik merupakan dua
hal yang berbeda. Kata pendidik ( bahasa Indonesia ) merupakan padanan dari
kata educator (bahasa Inggris). Di dalam kamus Webster kata educator berarti educationist
atau educationalist yang padanannya dalam bahasa Indonesia adalah pendidik,
spesialis di bidang pendidikan, atau ahli pendidikan. Kata guru (bahasa
Indonesia) merupakan padanan kata teacher (bahasa Inggris). di dalam kamus
Webster, kata teacher bermakna sebagai “The person who teach, especially in
school” atau guru adalah seseorang yang mengajar,khususnya disekolah.
1. Kompetensi
Guru
Guru adalah semua orang yang berwenang
dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual
maupun klasikal, baik di sekolah maupun luar sekolah. Ini berarti bahwa seorang
guru, minimal harus memiliki dasar-dasar kompetensi sebagai wewenang dan
kemampuan dalam menjalankan tugas. Berdasarkan uraian di atas, dapatlah
dipahami bahwa kompetensi guru merupakan salah satu hal yang sangat
diperhatikan dan merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh seorang
guru, baik dari segi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan serta tanggung
jawab terhadap murid-murid yang di asuhnya,sehingga tugasnya sebagai seorang
pendidik dapat terlaksana dengan baik.
Menurut Mulyasa, kompetensi adalah
perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan
dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Menurut Muhaimin, kompetensi adalah
seperangkat tindakan intelegen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki
seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksankan tugas-tugas dalam
bidang pekerjaan tertentu. Sifat intelegen harus ditunjukan sebagai kemahiran,
ketetapan, dan keberhasilan bertindak. Sifat tanggung jawab harus ditunjukkan
sebagai kebenaran tindakan baik dipandang dari sudut ilmu pengetahuan,
teknologi maupun etika. Menurut Muhibbin Syah kompetensi adalah kemampuan atau
kecakapan.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas
dapat disimpulkan bahwa pengertian kompetensi guru adalah pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi
bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku kognitif, afektif dan
psikomotorik dengan sebaik-baiknya.
Selanjutnya menurut Muhibbin Syah,
dikemukakan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam
melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak.
Kompetensi guru juga dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dan penuh
tanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya .
Menurut Mulyasa kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal,
keilmuan, sosial, spiritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar
profesi guru yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik,
pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme.
a. Kompetensi
Personal
Kompetensi Personal atau kompetensi kepribadian
adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil,
dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak
mulia. Sub kompetensi dalam kompetensi personal atau kompetensi kepribadian kepribadian
meliputi :
1.
Kepribadian
yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga
menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
2.
Kepribadian
yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan
memiliki etos kerja sebagai guru.
3.
Kepribadian yang arif adalah menampilkan
tindakan yang didasarkan pada kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat
dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
4.
Kepribadian
yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta
didik dan memiliki perilaku yangh disegani.
5.
Berakhlak
mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai dengan norma religius
(imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani
peserta didik.
b. Kompetensi
Profesional
Kompetensi Profesional adalah
penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup
penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan
yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi
keilmuannya. Sub kompetensi dalam kompetensi profesiona meliputi:
1.
Menguasai
materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang
dimampu.
2.
Mengusai
standar kompentensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan
yang dimampu.
3.
Mengembangkan
materi pembelajaran yang dimampu secara kreatif.
4.
Mengembangkan
keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
5.
Memanfaatkan
TIK untuk berkomunikasi dan mengembangakan diri.
c. Kompetensi
Sosial
Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru
untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga
kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Sub
kompetensi dalam kompetensi social meliputi:
1.
Bersikap
inkulif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan
jenis kelamin, agara, raskondisifisik, latar belakang keluarga, dan status
sosial keluarga.
2.
Berkomunikasi
secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orang tua dan masyarakat.
3.
Beradaptasi
di tempat bertugas di seluruh wilayah RI yang memiliki keragaman social budaya.
4.
Berkomunikasi
dengan lisan maupun tulisan
d. Kompetensi
Pedagogik
Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan
pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran,
evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimilikinya. Sub kompetensi dalam kompetensi Pedagogik
adalah :
1.
Memahami
peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta didik dengan
memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip
kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
2.
Merancang
pembelajaran,teermasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran
yang meliputi memahmi landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan
pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik
peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun
rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
3.
Melaksanakan
pembelajaran yang meliputi menata latar ( setting) pembelajaran dan
melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
4.
Merancang
dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi merancang dan melaksanakan
evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan denga
berbagai metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk
menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan memamfaatkan hasil
penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara
umum.
5.
Mengembangkan
peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya meliputi
memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan
memfasilitasipeserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.
2. Keterampilan
Guru dalam Mengajar
Pembelajaran merupakan suatu proses
yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena
itu, untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif diperlukan berbagai keterampilan
yaitu keterampilan mengajar dalam hal ini membelajarkan. Keterampilan mengajar
atau membelajarkan merupakan kompetensi pedagogik yang cukup kompleks karena
merupakan integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
keterampilan merupakan “kecakapan untuk menyelesaikan tugas”, sedangkan mengajar adalah “melatih”. DeQueliy
dan Gazali (Slameto, 2010:30) mendefinisikan mengajar adalah menanamkan
pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat. Definisi yang
modern di negara-negara yang sudah maju bahwa “teaching is the guidance of
learning”. Mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Alvin
W.Howard (Slameto, 2010:32) berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas untuk
mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau
mengembangkan skill, attitude, ideals (cita-cita), appreciations (penghargaan)
dan knowledge.
Berdasarkan pengertian tersebut maka
yang dimaksud dengan keterampilan mengajar guru adalah seperangkat
kemampuan/kecakapan guru dalam melatih/membimbing aktivitas dan pengalaman
seseorang serta membantunya berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan.
Jadi, persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru adalah penilaian berupa
tanggapan/pendapat siswa terhadap
kemampuan/kecakapan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Dibawah ini adalah 10 keterampilan yang
harus dilaksanakan dan dikuasai oleh guru:
1. Keterampilan
membuka pelajaran
Yang dimaksud dengan membuka pelajaran
(set induction) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam proses
KBM untuk menciptakan prokondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian
terpusat pada apa yang akan dipelajari, dan
usaha tersebut diharapkan akan memberikan efek positif terhadap kegiatan
belajar.
Keterampilan membuka pelajaran terdiri
dari:
a.
Memperhatikan
sikap dan tempat duduk siswa
b.
Memulai
pelajaran setelah Nampak siswa siap belajar
c.
Cara
mengenalkan pelajaran cukup menarik
d.
Mengenalkan
pokok pelajaran dengan menghubungkan pengetahuan yang sudah diketahui siswa
atau apersepsi
e.
Hubungan
antara pendahuluan dengan inti pelajaran Nampak jelas dan logis.
Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya
dilakukan oleh guru pada awal jam pelajaran, tetapi juga pada awal setiap
penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemukakan tujuan yang akan dicapai,
menarik perhatian siswa, member acuan dan dan membuat kaitan antara materi
pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan yang akan dipelajarinya
Komponen ketrampilan membuka pelajaran
meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui
berbagai usaha, dan membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang
akan dipelajari. Kalimat-kalimat awal yang diucapkan guru merupakan penentu
keberhasilan jalannya seluruh pelajaran. Tercapainya tujuan pengajaran
bergantung pada metode mengajar guru di awal pelajaran. Seluruh rencana dan
persiapan sebelum mengajar dapat menjadi tidak berguna jika guru gagal dalam
memperkenalkan pelajaran.
2. Keterampilan
memberikan motivasi
Secanggih apapun media, buku atau
perangkat pembelajaran lainnya tidak akan berguna jika anak didik kita tidak
termotivasi. Motivasi, baik dari luar atau dalam, adalah kunci sukses anak
didik pada hampir semua jenjang pendidikannya, dan guru dapat memainkan
perannya dalam memfasilitasi dan menumbuhkan motivasi tersebut.
Adapun yang dapat dilakukan guru dalam
memotivasi siwa, yaitu:
a.
Mengucapkan:
“baik”, “bagus”, “ya’, bila siswa menjawabatau mengajukan pertanyaan
b.
Ada
perubahan sikap non verbal positif pada saat menanggapi pertanyaan atau jawaban
siswa
c.
Memuji
dan member dorongan dengan senyum, anggukan atas partisipasi siswa.
d.
Member
tuntunan pada siswa agar dapat member jawaban yang benar.
e.
Member
pengarahan sederhana pancingan, agar siswa member jawaban yang benar.
memang gampang untuk berbicara daripada
dilakukan, memotivasi anak didik tentu akan berbeda-beda dan membutuhkan waktu
yang lama. Inilah beberapa langkah untuk
meningkatkan motivasi siswa:
1.
Beri
kepercayaan kepada siswa untuk mengendalikan.
Berilah kepercayaan kepada siswa untuk
memilih dan mengkontrol apa yang terjadi di dalam kelas, ini salah satu cara
agar mereka termotivasi sekaligus bertanggung jawab. Contohnya, izinkan para
siswa untuk memilih tugas apa yang akan mereka kerjakan atau masalah mana yang
akan dikerjakan dengan tanggung jawab dan kontrol, yang selanjutnya memotivasi
mereka untuk berbuat lebih
2.
Jelaskan
Tujuan Pembelajaran
Siswa akan kesusahan dan frustasi untuk
menyelesaikan tugas atau bahkan untuk berperilaku di kelas jika mereka tidak
mengerti betul tujuannya. siswa ingin tahu apa yang akan mereka dapatkan agar
tetap termotivasi. pada awal semester, jelaskan tujuan, aturan dan sesuatu yang
akan mereka dapatkan jadi siswa tidak akan pusing dan memiliki tujuan hasil
kedepannya.
3.
Ciptakan
kondisi yang nyaman.
Sementara siswa perlu memahami bahwa
ada konsekuensi tindakan mereka, lebih jauh berilah motivasi siswa dari ancaman
dan beri hal positif. Ketika guru menciptakan lingkungan yang aman dan
mendukung bagi siswa, menegaskan kepercayaan mereka terhadap kemampuan siswa
daripada meletakkan konsekuensi, siswa jauh lebih mendapatkan dan tetap
termotivasi untuk melakukan pekerjaan mereka. Pada akhir pembelajaran, siswa
akan memenuhi harapan bahwa orang dewasa di sekitar mereka berkomunikasi,
sehingga fokus pada bisa, bukan tidak bisa.
4.
Mengubah
gaya
Kelas adalah tempat yang tepat untuk
belajar, tapi duduk di meja hari masuk dan keluar hari dapat membuat sekolah
mulai tampak agak membosankan bagi sebagian siswa. Untuk memperbarui minat
dalam materi pelajaran atau hanya belajar pada umumnya, berikan siswa Anda
kesempatan untuk keluar dari kelas. keluar kelas menuju lapangan, membawa
speaker, atau bahkan hanya kepala ke perpustakaan untuk beberapa penelitian.
Otak mencintai perlu hal hal baru agar tetap fresh dan akhirnya akan lebih
termotivasi.
5.
Tawarkan
pengalaman yang bervariasi
Tidak semua siswa akan merespon
pelajaran dengan cara yang sama. Untuk beberapa, hands on pengalaman mungkin
yang terbaik. Orang lain mungkin suka membaca buku dengan tenang atau untuk
bekerja dalam kelompok. Dalam rangka menjaga semua siswa termotivasi, mencampur
pelajaran Anda sehingga siswa dengan preferensi yang berbeda masing-masing
membuat waktu terfokus pada hal-hal yang mereka sukai. Melakukan hal ini akan
membantu siswa tetap terlibat dan memperhatikan.
6.
Ciptakan
Persaingan yang positif
Persaingan di kelas tidak selalu hal
yang buruk, dan dalam beberapa kasus dapat memotivasi siswa untuk berusaha
lebih keras dan bekerja untuk unggul. Bekerja untuk menumbuhkan semangat
persaingan di kelas Anda, mungkin melalui pertandingan grup yang terkait dengan
materi atau kesempatan lain bagi siswa untuk memamerkan pengetahuan mereka.
7.
Beri
hadiah.
Semua orang suka mendapatkan
penghargaan, dan menawarkan siswa kesempatan untuk mendapatkan mereka adalah
sumber motivasi. menonton film, atau bahkan sesuatu yang sederhana seperti
stiker di atas kertas dapat membuat siswa bekerja lebih keras dan benar-benar
bertujuan untuk mencapai. Pertimbangkan kepribadian dan kebutuhan siswa Anda untuk
menentukan imbalan yang sesuai untuk kelas Anda
8.
Beri
siswa tanggung jawab.
Menetapkan pekerjaan siswa kelas adalah
cara yang bagus untuk membangun komunitas dan untuk memberikan siswa rasa
motivasi. Kebanyakan siswa akan melihat pekerjaan kelas sebagai suatu
kehormatan bukan beban dan akan bekerja keras untuk memastikan bahwa mereka,
dan mahasiswa lainnya, adalah harapan pertemuan. Hal ini juga dapat berguna
untuk memungkinkan siswa untuk bergiliran memimpin kegiatan atau membantu
sehingga masing-masing merasa penting dan dihargai.
9.
Biarkan
siswa untuk bekerja sama.
Meskipun tidak semua siswa akan
memanfaatkan kesempatan untuk bekerja dalam kelompok, banyak orang akan merasa
menyenangkan untuk mencoba memecahkan masalah, melakukan percobaan, dan bekerja
pada proyek-proyek dengan siswa lain. Interaksi sosial dapat membuat mereka
bersemangat tentang hal-hal di dalam kelas dan siswa dapat memotivasi satu sama
lain untuk mencapai tujuan. Guru perlu memastikan bahwa kelompok-kelompok yang
seimbang dan adil, bagaimanapun, sehingga beberapa siswa tidak melakukan
pekerjaan lebih dari yang lain.
10. Berikan pujian.
Tidak ada bentuk lain dari motivasi
yang bekerja cukup serta dorongan. Bahkan sebagai orang dewasa kita mendambakan
pengakuan dan pujian, dan mahasiswa pada usia berapa pun tidak terkecuali. Guru
dapat memberikan siswa motivasi atas keberhasilan , memberikan pujian untuk
pekerjaan yang dilakukan dengan baik, dan berbagi pekerjaan teladan.
11. Mendorong refleksi diri.
Kebanyakan anak-anak ingin sukses,
mereka hanya perlu bantuan mencari tahu apa yang harus mereka lakukan dalam rangka
untuk sampai ke sana. Salah satu cara untuk memotivasi siswa Anda adalah untuk
mendapatkan mereka untuk mengambil keras melihat diri mereka sendiri dan
menentukan kekuatan dan kelemahan mereka sendiri. Siswa seringkali jauh lebih
termotivasi dengan menciptakan jenis-jenis kritik dari diri mereka sendiri
daripada dengan memiliki seorang guru melakukannya untuk mereka, karena membuat
mereka merasa bertanggung jawab untuk menciptakan tujuan dan tujuan mereka
sendiri.
12. Bersemangatlah.
Salah satu cara terbaik untuk
mendapatkan siswa termotivasi adalah untuk berbagi antusiasme Anda. Bila Anda
sangat gembira tentang mengajar, mereka akan jauh lebih bersemangat belajar.
Sesederhana itu
13. Ketahui siswamu.
Mengenal siswa Anda adalah lebih dari
sekedar menghafal nama mereka. Siswa perlu tahu bahwa guru mereka memiliki
minat yang tulus dalam mereka dan peduli tentang mereka dan keberhasilan
mereka. Ketika siswa merasa dihargai menciptakan lingkungan belajar yang aman
dan memotivasi mereka untuk bekerja lebih keras, karena mereka ingin
mendapatkan pujian dan umpan balik yang baik dari seseorang mereka merasa tahu
dan menghormati mereka sebagai individu.
14. Manfaatkan minat siswa.
Mengetahui siswa Anda juga memiliki
beberapa manfaat lain, yaitu bahwa hal itu memungkinkan Anda untuk berhubungan
materi kelas untuk hal-hal yang siswa tertarik atau telah mengalami. Guru dapat
menggunakan kepentingan untuk membuat hal-hal yang lebih menarik dan relatable
kepada siswa, agar siswa termotivasi untuk lebih lama
15. Buatlah tujuan yang tinggi tetapi
dicapai.
Jika Anda tidak mendorong siswa untuk
melakukan lebih dari minimal, paling tidak akan berusaha untuk mendorong diri
mereka sendiri. Siswa ingin ditantang dan akan bekerja untuk mencapai harapan
yang tinggi asalkan mereka percaya tujuan tersebut berada dalam jangkauan
mereka, jadi jangan takut untuk mendorong siswa untuk mendapatkan lebih banyak
dari mereka
16. Berikan kesempatan untuk sukses.
Siswa, bahkan yang terbaik, bisa
menjadi frustrasi dan kehilangan motivasi ketika mereka merasa seperti mereka
sedang berjuang atau tidak mendapatkan pengakuan bahwa siswa lain. Pastikan
bahwa semua siswa mendapatkan kesempatan untuk bermain untuk kekuatan mereka
dan merasa disertakan dan dihargai. Hal ini dapat membuat dunia yang berbeda
dalam motivasi mereka.
17. Buatlah hal-hal menyenangkan.
Tidak semua pekerjaan kelas perlu
menjadi permainan atau waktu yang baik, tetapi siswa yang melihat sekolah
sebagai tempat di mana mereka bisa bersenang-senang akan lebih termotivasi
untuk memperhatikan dan melakukan pekerjaan yang diperlukan dari mereka daripada
mereka yang menganggapnya sebagai tugas . Menambahkan kegiatan yang
menyenangkan ke hari sekolah dapat membantu siswa yang berjuang untuk tetap
terlibat dan membuat kelas menjadi tempat yang jauh lebih ramah bagi semua
siswa.
3. Keterampilan
bertanya
Bertanya adalah bahasa verbal untuk
meminta respon siswa baik berupa pengetahuan, pendapat, atau pun sekedar
mengembalikan konsentrasi siswa yang terdestruc oleh berbagai kondisi selama
KBM berlangsung. Dalam proses belajar mengajar, “Bertanya” memainkan peranan
penting sebab “Bertanya” dapat menjadi stimulus yang efektif untuk mendorong
kemampuan berpikir siswa. Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses
belajar mengajar, guru perlu menunjukkan sikap yang baik ketika mengajukan pertanyaan maupun menerima jawaban
siswa. Hendaklah guru menghindari kebiasaan seperti: menjawab pertanyaan
sendiri, mengulang jawaban siswa, mengulang pertanyaan sendiri, mengajukan
pertanyaan dengan jawaban serentak, menentukan siswa yang harus menjawab
sebelum bertanya, dan mengajukan pertanyaan ganda. Kegiatan bertanya dalam KBM
ini akan lebih efektif bila pertanyaan yang diajukan cukup berbobot, mudah
dimengerti atau relevan dengan topik yang dibicarakan. Tujuan guru mengajukan
pertanyaan antara lain adalah :
• Menimbulkan rasa ingin tahu
• Merangsang fungsi berpikir
• Mengembangkan keterampilan berpikir
• Memfokuskan perhatian siswa
• Mendiagnosis kesulitan belajar siswa
• Menkomunikasikan harapan yang diinginkan oleh guru dari
siswanya
Adapun yang dapat dilakukan guru adalah:
a.
Pertanyaan
guru sebagian besar telah cukup jelas
b.
Pertanyaan
guru jelas kaitannya dengan masalah.
c.
Pertanyaan
ditunjukkan keseluruhan kelas lebih dahulu, baru menunjuk
d.
Guru
menggunakan teknik pause dalam menyampaikan pertanyaan.
e.
Pertanyaan
didistribusikan secara merata diantara para siswa
f.
Teknik
menunjuk yang memungkinkan seluruh siswa siap.
4. Keterampilan
menjelaskan materi atau menerangkan
“Menjelaskan” adalah menyajikan
informasi secara lisan, dengan sistematika yang runut untuk menunjukkan adanya korelasi/hubungan
antara yang satu dengan yang lainnya. Ada 2 komponen dalam ketrampilan
menjelaskan, yaitu : Merencanakan, hal ini mencakup penganalisaan masalah
secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yang ada diantara unsur-unsur yang
dikaitkan dengan penggunaan hukum atau rumus-rumus yang sesuai dengan hubungan
yang telah ditentukan. Dan penyajian, merupakan
suatu penjelasan, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
kejelasan, penggunaan contoh dan ilustrasi, pemberian tekanan, dan penggunaan
balikan/feedback.
Adapun yang harus dilakukan oleh guru
dalam menerangkan atau menjelaskan adalah:
a.
Keterangan
guru berfokus pada inti pelajaran
b.
Keterangan
guru menarik perhatian siswa
c.
Keterangan
guru mudah ditangkap siswa
d.
Menggunakan
contoh atau ilustrasi dan analogi atau
semacamnya menarik perhatian siswa
e.
Guru
memperhatikan dengan sunggung=sungguh respon siswa berupa pertanyaan, reaksi
usul dan semacamnya.
f.
Guru
menjelaskan respon siswa, sehingga siswa menjadi jelas dan mengerti.
Kegiatan “menjelaskan” dalam proses KBM
bertujuan untuk membantu siswa memahami berbagai konsep, hukum, prosedur, dll,
secara obyektif; membimbing siswa memahami pertanyaan; meningkatkan
keterlibatan siswa; memberi kesempatan pada siswa untuk menghayati proses
penalaran serta memperoleh feedback tentang pemahaman siswa. Apabila seorang
guru menguasai “keterampilan menjelaskan” maka guru akan lebih mudah mengelola
waktu dalam menyajikan materi, sehingga menjadi lebih efektif memanage
waktu. Selain itu penjelasan yang runut
dan sistematis akan memudahkan siswa dalam memahami materi, yang pada
gilirannya akan memperluas cakrawala pengetahuan siswa, bahkan mungkin
penjelasan guru yang sistematis dan mendalam akan dapat membantu mengatasi
kelangkaan buku sebagai sarana dan sumber belajar (mengingat guru adalah salah
satu sumber belajar bagi siswa).
5. Keterampilan
menggunakan media dan alat
Media pembelajaran adalah sarana
pembelajaran yang digunakan sebagaiperantara dalam proses pembelajaran untuk
mempertinggi efektifitas dan efesiensi dalam
mencapai tujuan pembelajaran.
Adapun yang harus dilakukan oleh guru
dalam menggunakan media dan alat, yaitu:
1.
Pemilihan
media sesuai PBM yang diprogramkan
2.
Teknik
mengkomunikasikan media tepat
3.
Organisasi
mengkomunikasikan media menunjang PBM
4.
Guru
terampil menggunakan media.
Adapun tujuan keterampilan menggunakan
media pembelajaran yaitu:
1.
Memperjelas
penyajian pesan agar terlalu verbalitas
2.
Mengatasi
keterbatasan ruang, aktu, dan daya indera.
3.
Memperlancar
jalannya proses pembelajaran
4.
Menimbulkan
kegairahan belajar.
5.
Memberi
kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan dan
kenyataan.
6.
Memberi
kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuan
dan minatnya
Media dan alat pengajaran, bila
ditinjau dari indera yang digunakan, dapatdigolongkan kedalam tiga bagian-
didengar, dilihat, diraba.Pergantian penggunaan jenis media mengharuskan anak
menyesuaikanalat inderanya sehingga dapat mempertinggi perhatiannya karena
setiapanak mempunyai peredaan kemampuan dalam menggunakan alatinderanya. 4dapun
0ariasi pengguanaan alat antara lain adalah sebagaiberikut:
a.
Variasi
alat atau bahan yang dapat dilihat (visual aids) seperti grafik bagan poster, diorama, specimen, gambar, film, dan slide.
b.
Variasi
bahan atau alat yang dapat didengar (auitif aids) suara guru termasuk media
komunikasi utama di dalam kelas. Selain itu dapat digunakan alat lain sebagai
pengguanaan indera dengar divariasikandengan indera lainnya.
c.
Variasi
alat atau bahan yang dapat didengar, dilihat, diraba (audio-visual aids)
penggunaan alat jenis ini merupakan tingkat yang paling tinggi karena
melibatkan semua indera.
d.
Variasi
pola interaksi variasi alat atau bahan yang dapat diraba!dimanipulasi! dan
digerakkan (motoric).
6. Keterampilan
menggunakan metode pembelajaran yang efektif
Metode pembelajaran adalah teknik atau
cara yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa
di ruang kelas. Teknik atau cara yang digunakan guru sangat menentukan
keberhasilan proses pembelajaran.
Guru tidak akan merasa asing dengan
metode pembelajaran yang ada dalam dunia pendidikan di Indonesia. Banyak sekali
metode yang sudah diketahui dan dilaksanakan oleh guru dalam pembelajaran.
Misalnya; metode ceramah, diskusi, tanya jawab, eksperimen, demonstrasi,
pemberian tugas, resitasi dan lain sebagainya.
Metode ceramah merupakan metode paling
popular di kalangan guru. Namun sebagian guru menganggap bahwa metode ini
dianggap kurang baik dalam pembelajaran. Guru lebih mendominasi pembelajaran
ketimbang siswa dan mengurangi kadar
aktivitas siswa dalam belajar.
Metode pembelajaran yang diidolakan
adalah metode eksperimen. Jika tidak mungkin melakukan eksperimen digunakan
metode demonstrasi karena keterbatasan alat-alat praktikum misalnya. Ada pula
yang beranggapan metode pemberian tugas dan resitasi sangat bagus dalam
pembelajaran. Hal ini juga ada benarnya.
Suatu metode pembelajaran dikatakan
efektif dan efisien dalam membelajarkan siswa sehingga menguasai materi
pelajaran. Atau dengan kata lain, seberapa besar penyerapan informasi belajar
oleh siswa melalui metode pembelajaran yang digunakan.
Berdasarkan uraian di atas, ada
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih suatu metode
pembelajaran, yaitu:
1.
Karakter
materi pelajaran
Setiap mata pelajaran memiliki
karakteristik tersendiri sehingga perlu disampaikan kepada siswa dengan
menggunakan metode tertentu. Termasuk di dalamnya tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai dari materi pelajaran tersebut. Misalnya mata pelajaran bersifat
eksakta lebih tepat menggunakan metode eksperimen atau demonstrasi.
2.
Ketersediaan
sarana belajar
Alat, sarana dan media yang tersedia di
sekolah sangat mempengaruhi penggunaan metode pembelajaran. Metode eksperimen
atau demonstrasi tidak mungkin digunakan jika penunjang metode tersebut tidak
tersedia.
3.
Kemampuan
dasar siswa
Kemampuan dasar siswa di sekolah
pedesaan berbeda dengan di perkotaan. Ini menjadi pertimbangan guru dalam
memilih metode pembelajaran. Menggunakan metode resitasi dan tugas, misalnya,
bisa berjalan baik bila kemampuan dasar siswa berdiskusi cukup memadai. Selain
itu perlu keterampilan siswa berbicara dalam sebuah diskusi.
4.
Alokasi
waktu pembelajaran
Alokasi waktu yang tersedia dan
tercantum dalam kurikulum perlu dipertimbangkan oleh guru. Jika waktu tersedia
terbatas maka guru akan memilih metode sederhana seperti ceramah, tanya jawab
dan diskusi. Ini tidak mungkin menggunakan metode eksperimen atau resitasi
karena metode ini membutuhkan waktu yang cukup.
7. Keterampilan
berinteraksi yang baik
Keterampilan berinteraksi dengan siswa
adalah kemampuan guru dalam melakukan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas
adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang
optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar
mengajar. Dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan
mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar,
misalnya penghentian tingkah laku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas,
pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau
penetapan norma kelompok yang produktif.
Suatu kondisi belajar yang optimal
dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta
mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran.
Dalam melaksanakan keterampilan mengelola kelas maka perlu diperhatikan
komponen-komponen keterampilan, antara
lain: Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi
belajar yang optimal (bersifat preventif). Keterampilan ini berkaitan dengan
kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal seperti keterampilan
menunjukkan sikap tanggap, member perhatian, memusatkan perhatian, memusatkan
perhatian kelompok, memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas, menegur dan member
penguatan. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar
yang optimal. Keterampilan ini berkaitan
dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud
agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi
belajar yang optimal. Apabila terdapat siswa yang menimbulkan gangguan yang
berulang-ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan respon yang
sesuai, guru dapat meminta bantuan kepada kepala sekolah, konselor sekolah,
atau orang tua siswa.
Dalam usaha mengelola kelas secara
efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh guru, yaitu sebagai
berikut:
1.
campur
tangan yang berlebihan (teachers instruction).
2.
kesenyapan
(fade away)
3.
ketidaktepatan
memulai dan mengakhiri kegiatan (stop and stars)
4.
penyimpangan (digression)
5.
bertele-tele
(overdwelling)
8. keterampilan
Penampilan Verbal Non Verbal
Berpenampilan adalah sebuah hal yang
perlu diperhatikan. Bukan saja agar diperhatikan oleh orang lain tetapi akan
bernilai ibadah jika penampilan kita bisa membuat orang tersenyum dan bahagia.
Begitu pun hal nya dengan penampilan seorang guru. Guru bukan saja penampilan
ala kadarnya dengan kondisi yang biasa saja. Hal ini perlu diperhatikan dengan
seksama.
Adapun yang harus diperhatikan guru
dalam keterampilan penampilan verbal non verbal adalah:
a.
Gerakan
guru wajar dan bertujuan
b.
Gerakan
guru bebas
c.
Isyarat
guru menggunakan tangan, badan, dan wajah cukup bervariasi
d.
Suara
guru cukup bervariasi
e.
Ada
pemusatan perhatian dari pihak siswa
f.
Pengertian
indra melihat dan mendengar berjalan dengan wajar
Setiap guru harus memiliki kualifikasi
persyaratan fisik. Persyaratan fisik ini antara lain meliputi berbadan sehat,
tidak memiliki cacad tubuh yang mungkin menganggu pekerjaannya, tidak memiliki
gejala-gejala penyakit menular. Dalam persyatan fisik ini juga menyangkut
kerapian dan kebersihan, termasuk bagaimana cara berpakaian. Sebab bagaimanapun
juga guru akan selalu dilihat, diamati dan bahkan dinilai oleh para siswanya.
Guru harus bebas dari penyakit menular atau yang menjijikan, suara yang bersih
dan tidak cacat berbicara, seperti gagap, cadel, atau volume suara yang lemah.
Dari aspek fisik, guru harus
benar-benar memperhatikan penampilan fisik dari luar maupun dalam. Maksudnya
adalah, guru hendaknya memperhatikan setelan baju yang ia hendak pakai untuk
mengajar, ini dari sisi luar. Dari sisi dalam, guru hendaknya memperhatikan
kesehatan dan vitalitas tubuhnya ketika mengajar.
Dalam memperhatikan penampilan , guru
harus berpenampilan rapi, tapi harus dalam batas yang wajar, tidak berlebihan.
(Mahmud syamir al munir. 2004, Guru teladan, Gema Pers, Jakarta).
9. Keterampilan
memberikan penjajagan atau assessment
a.
Menaruh
perhatian kepada siswa yang mengalami kesulitan
b.
Adanya
kesepakatan guru terhadap tanda siswa yang mengalami salah pengertian
c.
Melakukan
penjajagan kepada siswa tentang pelajaran yang telah diterimanya
d.
Mencari
atau melakukan apa yang menjadi sumber terjadinya kesulitan
e.
Melakukan
kegiatan untuk mengatasi atau menunjukkan kesulitan siswa.
Seorang guru dituntut untuk menguasai
kemampuan memberikan penilaian kepada peserta didiknya. Kemampuan ini adalah
kemampuan terpenting dalam evaluasi pembelajaran. Dari penilaian itulah seorang
guru dapat mengetahui kemampuan yang telah dikuasai oleh para peserta didiknya.
Mengetahui kompetensi dasar (KD) apa saja yang telah dikuasai oleh peserta
didik dan segera mengambil tindakan perbaikan ketika terjadi nilai peserta didiknya lemah atau
kurang sesuai dengan harapan. Dari penilaian yang dilakukan oleh guru itulah,
guru melakukan perenungan diri dari apa yang telah dilakukan.
Prof. Dr. H. Arief Rachman pernah
mengatakan kepada kami para guru di Labschool bahwa ada 4 kesadaran yang penting
bagi seorang guru atau pendidik dalam memberikan penilaian. Keempat kesadaran
itu adalah:
a.
Sense
of goal (tujuan)
b.
Sense
of regulation (keteraturan)
c.
Sense
of achievement (berprestasi)
d.
Sense
of harmony (keselarasan)
Berangkat dari keempat kesadaran itulah
seharusnya seorang guru melakukan penilaian. Pendidik harus sudah tahu tujuan
penilaian itu adalah mengukur kemampuan atau kompetensi siswa setelah
dilaksanakannya proses pembelajaran. Setelah guru melakukan penilaian akan
terlihat nanti kemampuan setiap siswa setelah guru melaksanakan test atau ujian
dan kemudian melakukan penilaian. Ketika guru telah memahami benar tujuan
pembuatan soal yang sesuai dengan indikator dalam standar kompetensi (SK) dan
kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai oleh siswa, maka guru yang
bersangkutan akan dengan mudah membuat soal-soal test yang akan diujikan. Dari
situlah guru melakukan bobot penilaian yang telah ditentukan lebih dahulu dalam
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Bila semua itu telah direncanakan dengan
baik, maka tujuan pembelajaran akan tercapai. Hal ini terlihat dari prestasi
siswa yang menggembirakan.
Dalam melakukan penilaian, seorang guru
harus menyadari adanya sense of regulation (keteraturan). Guru harus membuat
soal yang penuh dengan keteraturan dan sesuai dengan kisi-kisi soal yang telah
dibuat sebelumnya. Ketika keteraturan telah menjadi kesadaran guru bahwa soal
dibuat dalam rangka mengetahui kemampuan siswa, maka harus sesuai dengan aturan
sekolah. Apakah dibuat dalam bentuk multiply chois atau berbentuk essay. Semua
itu bergantung dari kesepakatan di antara sesama dewan guru dalam menentukan
bentuk soal dan sistem penilaian.
Penilaian yang dilakukan oleh guru
harus mampu membuat setiap siswa berprestasi dan menemukan potensi unik yang
dimiliki oleh setiap siswa. Akan terlihat nantinya, siswa mana yang unggul di
bidang MIPA (matematika dan Ilmu Pengetahuan alam), olahraga, art (seni), dan
lain sebagainya. Di sinilah peran guru yang memiliki kesadaran sense of
achiement. Ketika terlihat ada siswa yang mengalami masalah dalam
pembelajarannya, maka guru perlu melakukan Achievement Motivation Training
(AMT) untuk memberikan motivasi dan semangat kepada siswa bahwa mereka
sebenarnya bisa. Hanya mungkin faktor kemalasan yang membuat siswa yang bersangkutan
mendapatkan nilai rendah.
10. Keterampilan
menutup pelajaran dan memberikan penguatan
Menutup pelajaran (closure) ialah
kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri proses KBM. Jangan akhiri pelajaran dengan tiba-tiba.
Penutup harus dipertimbangkan dengan sebaik mungkin agar sesuai. Guru perlu
merencanakan closing yang baik dan tidak tergesa-gesa. Jangan lupa sertakan pula
doa. Hal-kal yang harus dilakukan guru adalah:
a.
Dapat
menyimpulkan pelajaran yang tepat
b.
Dapat
menggunakan kata kata yang dapat membesarkan hati siswa
c.
Dapat
menimbulkan perasaan mampu dari pelajaran yang diperoleh.
d.
Dapat
mendorong siswa tertarik pada pelajan.
Komponen-komponen dan prinsip-prinsip
dalam menutup pelajaran:
1.
Merangkum
Pelajaran.
Sebagai penutup, hendaknya guru
memberikan ringkasan dari pelajaran yang sudah disampaikan. Ringkasan pelajaran
sudah tidak lagi berupa diskusi kelas atau penyampaian garis besar pelajaran,
tetapi berisi ringkasan dari hal-hal yang disampaikan selama jam pelajaran
dengan menekankan fakta dasar pelajaran tersebut. Menyampaikan Rencana
Pelajaran Berikutnya. Waktu menutup pelajaran merupakan saat yang tepat untuk
menyampaikan rencana pelajaran berikutnya. Guru dapat memberikan kilasan
pelajaran untuk pertemuan berikutnya. Diharapkan hal ini dapat merangsang
keinginan belajar mereka. Sebelum kelas dibubarkan, ungkapkanlah pelajaran yang
akan disampaikan minggu depan dan kemukakan rencana-rencana di mana murid dapat
mengambil bagian dalam pelajaran mendatang. Bangkitkan minat. Guru tentu ingin
murid-muridnya kembali di pertemuan berikutnya dengan penuh semangat. Oleh
karena itu, biarkan murid pulang ke rumah mereka dengan satu pertanyaan atau
pernyataan yang mengesankan, yang dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu
mereka. Sama seperti seorang penulis yang mengakhiri sebuah bab dalam cerita
bersambung, yang membuat pembaca ingin segera tahu bab berikutnya. Dengan cara
yang sama, guru dapat mengakhiri pelajarannya dengan penutup yang “berklimaks”
sehingga seluruh kelas menantikan pelajaran berikutnya dengan tidak sabar.
2.
Meninjau
kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkumpelajaran dan membuat
ringkasan
3.
Mengevaluasi
4.
Memberikan
tugas.
Tugas-tugas harus direncanakan dengan saksama. Perlu diingat
pula sikap guru yang bersemangat dalam memberikan tugas akan mempengaruhi minat
dan semangat para anggota kelas”. (Benson : 80-85).
Penguatan (reinforcement)
adalah segala bentuk respons, baik bersifat verbal maupun non verbal, yang
merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa,
bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima
(siswa), atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan juga
merupakan respon terhadap tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan
berulangnya kembali tingkah laku tersebut.
Teknik pemberian penguatan dalam KBM
yang bersifat verbal dapat dinyatakan melalui pujian, penghargaan atau pun
persetujuan, sedangkan penguatan non verbal dapat dinyatakan melalui gesture,
mimic muka (ekspresi), penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan
sentuhan (contact), penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, dll.
Dalam rangka pengelolaan kelas, dikenal
penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif bertujuan untuk
mempertahankan dan memelihara perilaku positif, sedangkan penguatan negatif
merupakan penguatan perilaku dengan cara menghentikan atau menghapus rangsangan
yang tidak menyenangkan. Manfaat penguatan bagi siswa adalah untuk meningkatkan
perhatian (fokus) siswa dalam belajar, membangkitkan dan memelihara perilaku,
menumbuhkan rasa percaya diri, dll.
B. Fungsi
Guru
Menurut
UU.RI.No.14 th 2005 bab 2 pasal 5 yang berbunyi : “Kedudukan dosen sebagai
tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat 1 berfungsi untuk meningkatkan
martabat dan peran dosen / guru sebagai agen pembelajaran,pengembang ilmu
pengetahuan,tekhnologi dan seni serta pengabdi kepada masyarakat berfungsi
untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.”
Adapun Fungsi Guru sebagai berikut :
1. Sumber
Belajar
Mengingat tugas guru sebagai transmisi
ilmu,maka di harapkan mampu menguasai materi yang di ajarkannya.Sebab seorang
guru merupakan sumber dari belajarnya.Apa yang tidak di pahami oleh peserta
didik,diharapkan seorang gurulah yang akan membantunya dalam memecahkan
persoalan yang di hadapi.
2. Fasilitator
Sebagai fasilitator seorang guru
berperan sebagai pendamping belajar para peserta didiknya dengan suasana yang
menyenangkan.Agar dapat melaksanakan tugas sebagai fasilitator ada beberapa hal
yang harus di pahami guru :
Ø Memahami berbagai jenis media dan
sumber belajar beserta fungsi masing-masimg media tersebut
Ø Mempunyai ketrampilan dalam merancang
suatu media
Ø Mampu mengorganisaikan berbagai jenis
media serta dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar
Ø Mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi
dan berinteraksi dengan peserta didik
3. Pengelola
Seorang guru sebagai pengelolah
pembelajaran berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa
belajar dengan nyaman.
Sebagai
manager,guru memiliki 4 fungsi umum :
Ø Merencanakan tujuan belajar
Ø Mengorganisasikan berbagai sumber
belajar untuk mewujudkan tujuan belajar
Ø Memimpin,meliputi :
memotivasi,mendorong dan menstimulasi peserta didik
Ø Mengawasi segala sesuatu dalam rangka
mencapai tujuan
4. Demonstator
Seorang guru dapat mempertunjukkan
kepada peserta didik agar memahami dan mengerti dari setiap pesan yang di
sampaikannya.
5. Pembimbing
Setiap peserta didik pada saat lahir
telah memiliki potensi-potensi yang kemudian dapat di tumbuhkembangkan sesuai
dengan potensinya.Maka seorang guru berperan dalam membimbing dan
mengarahkannya.
Hal yang harus di miliki
seorang guru antara lain :
Ø Seorang guru harus memahami peserta
didik yang sedang di bimbingnya
Ø Seorang guru harus memahami dan terampil dalam
merencanakan tujuan kompetensi yang akan di capai
6. Motivator
Untuk menghasilkan sistem belajar yang optimal seorang guru
di tuntut kreatif dalam membangkitkan motivati belajar peserta didiknya dengan
cara:
Ø Memperjelas tujuan yang ingin di capai
Ø Membangkitkan minat peserta didik dalam
belajar
Ø Menciptakan suasana yang menyenangkan
Ø Memberikan pujian terhadap keberhasilan
peserta didik
Ø Memberi komentar yang mendidik tentang
hasil pekerjaan peserta didik
7. Evaluator
Dengan adanya evaluasi seorang guru
dapat mengetahui apakah siswanya telah berhasil sehingga mereka layak untuk
diberikan materi yang baru ataukah sebaliknya sehingga mereka perlu adanya
remidi.
Dengan adanya pemahaman tentang
pentingnya tugas dan fungsi guru profesional,semoga guru sekarang tidak
terjangkit oleh virus penyakit yang dapat menyerang seorang guru,melemahkan
kualitas guru,dan berdampak negatif pada upaya peningkatan mutu pendidikan.
C. Tanggung
Jawab Guru
1. Tugas
Guru
Menurut UU Nomor 15 tahun 2005 Bab I
Pasal 1 tentang guru dan dosen bahwa, guru adalah pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Hamzah B Uno (2007:18) berpendapat
bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas
personal (pribadi), dan tugas sosial (kemasyarakatan).
1.
Tugas-tugas
professional
Guru harus memiliki pengetahuan yang
luas dari Subject Matter (bidang studi) yang akan diajarkan serta penguasaan
metodologi dalam arti memiliki konsep teoritis dan mampu memilih metode dalam
proses pembelajaran. Seorang guru harus meneruskan atau mentransfer ilmu
pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum
diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak. Hamzah B Uno (2007:19)
berdasarkan peran guru sebagai pengelola proses pembelajaran, guru harus
memiliki kemampuan :
a.
Merencanakan
sistem pembelajaran
1.
Merumuskan
tujuan
2.
Memilih
prioritas materi yang akan diajarkan,
3.
Memilih
dan menggunakan metode,
4.
Memilih
dan menggunakan sumber belajar yang ada,
5.
Memilih
dan menggunakan media pembelajaran.
b.
Melaksanakan
sistem pembelajaran
1.
Memilih
bentuk kegiatan pembelajaran yang tepat,
2.
Menyajikan
urutan pembelajaran secara tepat.
c.
Mengevaluasi
sistem pembelajaran
1.
Memilih
dan menyusun jenis evaluasi,
2.
Melaksanakan
kegiatan evaluasi sepanjang proses,
3. Mengadministrasikan hasil evaluasi.
d. Mengembangkan sistem pembelajaran
1. Menoptimalisasikan potensi peserta
didik,
2. Meningkatkan wawasan kemampuan diri
sendiri,
2. Mengembangkan program pembelajaran
lebih lanjut.
Disamping sebagai pengelola proses
pembelajaran, guru juga mempunyai tugas profesional lain, yaitu mendidik.
Chatarina (2008:34) memberikan makna mendidik sebagai mendorong dan membimbing
peserta didik agar maju menuju kedewasaan secara utuh, sehingga menjadikan
peserta didik baik dan benar. Kedewasaan yang dimaksud meliputi kedewasaan
intelektual, emosi, sosial, fisik, seni, spiritual, dan moral. Hal ini berarti
bahwa siswa perlu dibantu untuk berkembang secara holistik, sehingga
perkembangannya tidak hanya pada aspek intelektualnya saja. Peserta didik
dibantu agar emosinya seimbang dan tertata, sehingga tidak menjadi emosional
tatkala bersikap. Sebagai makhluk sosial, peserta didik juga dibantu
mengembangkan kepekaan dan rela hidup dengan orang lain. Secara fisikpun
peserta didik perlu dibantu agar menjadi manusia yang sehat jasmaninya.
2.
Tugas
Personal (pribadi)
Menurut Martinis Yamin (2007:5) tugas
personal (pribadi) mencakup hal-hal sebagai berikut : Penampilan sikap yang
positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan
situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya, Pemahaman, penghayatan dan
penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, Penampilan
upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.
Menurut Chatarina (2008:30), seseorang
menjadi guru harus memahami bahwa profesi yang ditempuhnya berdasarkan
panggilan hidup bukan sekedar bentuk kompensasi karena tidak ada profesi lain
yang bisa ditekuni. Lebih lanjut dikatakan bahwa, terdapat dua kriteria bahwa
profesi sebagai panggilan hidup, yaitu: (1)pekerjaan itu membantu mengembangkan
orang lain atau ada unsur sosial, dan (2) pekerjaan itu juga mengembangkan dan
memenuhi diri kita sebagai pribadi.
3.
Tugas
sosial (Kemasyarakatan)
Menurut Chatarina (2008:31), tugas guru
hendaknya disesuaikan dengan misi kemanusiaan, artinya bahwa tugas yang
dilakukan guru tatkala mengajar dan mendidik selalu terfokus pada loyalitasnya
terhadap masyarakat.
Guru harus menunjukkan atau mampu
berinteraksi sosial, baik dengan peserta didiknya maupun dengan sesama guru,
karyawan, dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Guru harus
memahami dan menerapkan prinsip belajar humanistik yang beranggapan bahwa
keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan yang ada pada diri peserta didik
tersebut. Tugas sosial yang dimiliki guru adalah menyangkut kemampuan
berkomunikasi dengan peserta didik dan lingkungan mereka seperti, orang tua,
tetangga, dan sesama teman. Dalam menjalankan tugas sosialnya, seorang guru
juga harus bercermin pada kearifan lokal “Hasta Brata”. Dengan hasta brata
diharapkan guru benar-benar sebagai seorang pemimpin dalam lingkungan sosial
(masyarakat).
Ketiga tugas guru itu harus
dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis dan dinamis.
Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus
mampu menjadi katalisator, motivator dan dinamisator pembangunan tempat di mana
ia bertempat tinggal. Ketiga tugas ini jika dipandang dari segi anak didik maka
guru harus memberikan nilai-nilai yang berisi pengetahuan masa lalu, masa
sekarang dan masa yang akan datang, pilihan nilai hidup dan praktek-praktek
komunikasi. Pengetahuan yang kita berikan kepada anak didik harus mampu membuat
anak didik itu pada akhimya mampu memilih nilai-nilai hidup yang semakin
komplek dan harus mampu membuat anak didik berkomunikasi dengan sesamanya di
dalam masyarakat, oleh karena anak didik ini tidak akan hidup mengasingkan
diri. Kita mengetahui cara manusia berkomunikasi dengan orang lain tidak hanya
melalui bahasa tetapi dapat juga melalui gerak, berupa tari-tarian, melalui
suara (lagu, nyanyian), dapat melalui warna dan garis-garis (lukisan-lukisan),
melalui bentuk berupa ukiran, atau melalui simbul-simbul dan tanda tanda yang biasanya
disebut rumus-rumus.
Jadi nilai-nilai yang diteruskan oleh
guru atau tenaga kependidikan dalam rangka melaksanakan tugasnya, tugas
profesional, tugas personal, dan tugas sosial, apabila diutarakan sekaligus
merupakan pengetahuan, pilihan hidup dan praktek komunikasi. Jadi walaupun
pengutaraannya berbeda namanya, oleh karena dipandang dari sudut guru dan dan
sudut siswa, namun yang diberikan itu adalah nilai yang sama, maka pendidikan
tenaga kependidikan pada umumnya dan guru pada khususnya sebagai pembinaan
prajabatan, bertitik berat sekaligus dan sama beratnya pada tiga hal, yaitu
melatih mahasiswa, calon guru atau calon tenaga kependidikan untuk mampu
menjadi guru atau tenaga kependidikan yang baik, khususnya dalam hal ini untuk
mampu bagi yang bersangkutan untuk melaksanakan tugas profesional.
UU Nomor 14 Tahun 2005 Bab IV Pasal 20 Tentang Guru dan Dosen
dijelaskan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalisan, guru berkewajiban
:
a.
Merencanakan
pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan
mengevaluasi hasil pembelajaran;
b.
Meningkatkan
dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan
sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
c.
Bertindak
objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama,
suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status
sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
d.
Menjunjung
tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta
nilai-nilai agama dan etika; dan
e.
Memelihara
dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Apabila seorang guru telah selesai
melaksanakan tugas-tugas pokoknya, maka guru tersebut mendapatkan hak-haknya.
Adapun hak guru dijelaskan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Bab IV Pasal 14 Bagian
1 tentang guru dan dosen sebagai berikut:
a.
memperoleh
penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;
b.
mendapatkan
promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;
c.
memperoleh
perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;
d.
memperoleh
kesempatan untuk meningkatkan kompetensi;
e.
memperoleh
pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.
2. Tanggung
Jawab Guru
Tanggung
jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung
segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus Bahasa Indonesia
adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab,mananggung segala sesuatunya,
atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya. Jadi, tanggung jawab seorang
guru adalah keaadaan wajib menanghung segala sesuatu, memberikan jawaban, dan
menanggung akibat sebagai guru.
Dibawah ini adalah beberapa tanggung jawab
yang harus ditanggung oleh guru, yaitu:
a. Tanggung
jawab Guru terhadap Administrasi Sekolah
Sebagaimana kita ketahui bahwa tugas
wajib guru adalah mendidik (mengajar). Tetapi disamping mengajar, guru juga
melaksanakan tugas-tugas administrasi yang berhubungan dengan pendidikan.
tugas-tugas tersebut yang disebutkan bahwa guru berfungsi sebagai administrator.
Dalam buku Pedoman Administrasi dan Supervisi yang diterbitkan oleh Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan (1970 hal. 4) tertulis
tugas dan tanggung jawab guru sebagai administrator yaitu :
1. Menguasai program pengajaran (garis-garis besar program)
2. Menyusun program kegiatan mengajar
3. Menyusun model satuan pelajaran dan pembagian waktu
4. Melaksanakan tata usaha kelas, antara lain pencatatan
data murid.
Hal-hal tersebut diatas lebih mengena
ditujukan pada guru kelas (di sekolah dasar), dimana seorang guru di samping
mengajar seluruh bidang studi, juga menjalankan tugas administrasi. Adapun
tanggung jawab guru secara umum diantaranya adalah seperti akan diuraikan
dibawah ini.
Seperti telah disebutkan dimuka bahwa
ada beberapa komponen administrasi sekolah yaitu :
1. Administrasi kurikulum
2. Administrasi personal
3. Administrasi murid
4. Administrasi tata laksana (ketatausahaan)
5. Administrasi saran
6. Kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat.
Dari keenam komponen diatas ada
beberapa hal yang menjadi tugas dan tanggung jawab guru diantaranya adalah :
A.
Dalam
bidang administrasi kurikulum, diantaranya :
1.
Menyusun
program mengajar sesuai dengan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP)
dalam kurikulum yang berlaku.
2.
Menyusun
model satuan pelajaran beserta pembagian waktunya.
3.
Merencanakan
dan melaksanakan program evaluasi pendidikan (tes formatif, tes summatif,
EBTA).
4.
Memberikan
bimbingan belajar kepada murid.
B.
Dalam
bidang administrasi murid diantaranya :
1.
Menjadi
panitia dalam penerimaan murid baru.
2.
Mempertimbangkan
syarat kenaikan kelas atau kelulusan.
3.
Menyusun
tata tertib sekolah.
4.
Membantu
mengawasi dan membimbing organisasi murid.
5.
Berpartisipasi
dalam kegiatan upacara sekolah.
C.
Dalam
bidang administrasi sarana pendidikan diantaranya :
1.
Inventarisasi
alat peraga pada bidang studi masing-masing.
2.
Merencanakan
dan mengusahakan buku pegangan baik untuk guru maupun murid.
3.
Mengatur
penggunaan laboratorium sekolah.
b. Tanggung
Jawab guru didalam Kelas
Tanggung jawab guru didalam kelas adalah
1.
Tanggung
jawab membuka kelas atau membuka pelajaran
2.
Tanggung
jawab memberikan motivasi kepada siswa supaya membakar semangat belajar siswa
3.
Tanggung
jawab untuk bertanya kepada siswa supaya guru tau bagaimana kekurangan siswa
dalam pelajaran.
4.
Tanggung
jawab untuk menjelaskan materi pelajaran
5.
Tanggung
jawab dalam menggunakam media sebagai bahan ajar
6.
Tanggung
jawab memberikan tugas dan latihan kepada iswa
7.
Tanggung
jawab memeriksa tugas-tugas atau latihan para siswa.
c. Tanggung
jawab Guru di Sekolah
Berikut ini adalah beberapa tanggung jawab guru di sekolah,
yaitu:
1.
Mengikuti
jadwal piket sekolah
2.
Mematuhi
tata tertib sekolah
3.
Menyiapkan
pembelajaran untuk siswa
4.
Mengikuti
kebijakan sekolah
5.
Mengikuti
upacara rutin di sekolah
6.
Mengikuti
senam pada hari yang di tentukan
7.
Tanggung
jawab menyerahkan nilai tepat waktu pada sekolah
8.
Tanggung
jawab dalam perlengkapan mengajar
d. Tanggung
jawab Guru terhadap Ketuntasan Belajar Siswa
ketuntasan belajar merupakan keadaan
atau tingkat penguasaan secara tuntas seluruh atandar kompetensi maupun
kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. Untuk mencapai ketuntasan belajar
tersebut diperlukan sebuah pendektan pembelajaran yang disebut dengan
pembelajaran tuntas yang dilakukan oleh guru.
Pembelajaran tuntas yang dimaksud dalam
pelaksanaan KTSP adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan
secara individual.[14] Dalam hal ini pemberian kebebasan belajar, serta untuk
mengurangi kegagalan siswa dalam belajar, setrategi belajar tuntas menganut
pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan pada
sekelompok siswa (kelas), tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan
perorangan siswa sedemikian rupa, sehingga dengan penerapan pembelajaran tuntas
memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal. Dasar
pemikiran dari belajar tuntas dengan pendekatan individual ialah adanya
pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing siswa.
Dengan demikian, dalam pembelajaran
tuntas ini benar-benar dilakukan oleh guru melalui asas-asas ketuntasan belajar
yaitu mulai dari perencanaan (RPP), strategi belajar, metode pembelajaran,
media pembelajaran serta asek-aspek lain yang menyangkut mengenai ketuntasan
belajar. Inilah letak perbedaannya dengan pembelajaran kompensional yang pada
umumnya tidak memperhatikan ketuntasan belajar khususnya ketuntasan siswa
secara individual.
e. Tanggung
Jawab Guru di Masyarakat
Tanggung jawab para guru dan unsur pendidikan lainnya bukan hanya
sekedar dalam hal mengajar atau memajukan dunia pendidikan di sekolah di
tempatnya bertugas, tetapi juga bertangggung jawab untuk mengajak masyarakat di
sekitarnya masing-masing untuk ikut berpartisipasi dalam memajukan pendidikan
di wilayahnya. Maju mundurnya pendidikan di daerah tergantung kinerja para
dewan guru, pengawas ekolah dan komite sekolah, karenanya diharapkan semuanya
biasa menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya yang disertai keikhlasan hati
dalam mengemban amanah yang diberikan.
Sebagai seorang warga negara yang
baik,seorang guru turut mengembangkan dan melaksanakan apa yang telah di
gariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945 dan GBHN.Adapun tugas tersebut
meliputi :
1.
Mendidik
dan mengajar masyarakat untuk menjadi WNI yang bermoral pancasila
2.
Mencerdaskan
bangsa Indonesia
Masyarakat
menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat dilingkungannya karena dari
seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini
berarti bahwa guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia
Indonesia seutuhnya yang berdasarkan Pancasila.
Tugas
guru tidaklah terbatas di dalam masyarakat, bahkan guru pada hakikatnya
merupakan komponen strategis yang memilih peran yang penting dalam menentukan
gerak maju kehidupan bangsa. Bahkan keberadaan guru merupakan faktor condiso
sine quanom yang tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan
bangsa sejak dulu, terlebih-lebih pada era kontemporer ini.
Keberadaan
guru bagi suatu bangsa amatlah penting, apalagi bagi suatu bangsa yang sedang
membangun, terlebih-lebih bagi keberlangsungan hidup bangsa ditengah-tengah
lintasan perjalanan zaman dengan teknologi yang kian canggih dan segala
perubahan serta pergeseran nilai yang cenderung memberi nuansa kepada kehidupan
yang menuntut ilmu dan seni dalam kadar dinamik untuk dapat mengadaptasikan
diri.
Semakin
akurat para guru melaksanakan tugasnya, semakin terjamin tercipta dan
terbinanya kesiapan dan keandalan seseorang sebagai manusia pembangunan. Dengan
kata lain, potret dan wajah diri bangsa di masa depan tercermin dari potret
diri para guru masa kini, dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding
lurus dengan citra para guru di tengah-tengah msyrakat.
Sejak
dulu, guru menjadi panutan masyarakat. Guru tidak hanya diperlukan oleh para
murid di ruang-ruang kelas, tetapi juga diperlukan oleh masyarakat
lingkungannya dalam menyelesaikan aneka ragam permasalahan yang dihadapi
masyarakat.
Tampaknya
masyarakat mendudukkan guru pada tempat yang terhormat dalam kehidupan
masyarakat, yakni di depan memberi suri teladan, di tengah-tengah membangun,
dan di belakang memberi dorongan dan motivasi. Ing ngarso sung tuladha, ing
madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Kedudukan
guru yang demikian itu senantiasa relevan dengan zaman dan sampai kapanpun
diperlukan. Kedudukan guru seperti itu merupakan penghargaan masyarakat yang
tidak kecil. Artinya bagi para guru, sekaligus merupakan tantangan yang
menuntut prestise dan prestasi yang senantiasa terpuji dan teruji dari setiap
guru, bukan saja di depan kelas, di batas-batas pagar sekolah, tetapi juga di
tengah-tengah masyarakat, (Ny. Nani Soedarsono, S.H., Suara Daerah, No. 185,
Agustus 1986).
BAB
III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
1.
Guru
adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik didik pada jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
2.
Kompetensi
guru terdiri dari:
a.
Kompetensi
profesiona
b.
Kompetensi
sosial
c.
Kompetensi
pedagogic
d.
Kompetensi
personal atau kompetensi kepribadian
3.
Keterampilan
guru dalam mengajar terdiri dari
a.
Keterampilan
dalam membuka pelajaran
b.
Keterampilan
memberikan motivasi kepada siswa
c.
Keterampilan
bertanya
d.
Keterampilan
menjelaskan materi terkait
e.
Keterampilan
dalam menggunakan media dan alat dalam pembelajaran
f.
Keterampilan
dalam menggunakan metode yang efektif
g.
Keterampilan
dalam penampilan yang yang baik
h.
Keterampilan
dalam memberikan penilaian
i.
Keterampilan
dalam menutup pelajaran
4.
Fungsi
guru meliputi:
a.
Guru
sebagai sumber belajar
b.
Guru
sebagai fasilitator
c.
Guru
sebagai pengelola
d.
Guru
sebagai demonstrator
e.
Guru
sebagai pembimbing
f.
Guru
sebagai motivator
g.
Guru
sebagai evaluator
5.
Tugas
guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
6.
Tanggung
jawab guru terdiri dari:
a.
Tanggung
jawab guru terhadap administrasi sekolah
b.
Tanggung
jawab guru didalam kelas
c.
Tanggung
jawab guru di sekolah
d.
Tanggung
jawab guru terhadap ketuntasan belajar siswa tanggung jawab guru di masyarakat.
B. Saran
Penulis menyarankan
kepada khususnya mahasiswa jurusan pendidikan guru agar dapat meningkatkan kualitas
cara mengajar sehingga dapat mencerdaskan anak bangsa dan mampu meningkatkan
derajat pendidikan di Indonesia.
C. Harapan
Penulis
mengharapkan semua komponen pendidikan yang terkait langsung maupun tidak
langsung untuk dapat sadar dan memahami serta berupaya untuk dapat meningkatkan
kualitas sumber daya manusia di Indonesia dengan cara mengoptimalkan kualitas
dan kuantitas pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Bafadal, Ibrahim. 2003, Peningkatan
Profesional Guru SD, Jakarta: Bumi Aksara
Mulyasa. 2007, Menjadi Guru
Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sadulloh, Uyoh.Dkk. 2006,
Pedagogik, Bandung: Upi Press
Yasyin, Sulchan. 1997, Kamus Bahasa
Indonesia(KBI – Saku), Surabaya: Amanah
Redaksi Sinar Grafika.UU Guru &
Dosen. Penerbit Sinar Grafika.Jakarta
Anni, Chatarina Tri dan Mugiarso, Heru,
2008, Bahan Ajar Teori Kepribadian dan
Etika, Unnes Semarang.
Aqib, Z dan Rohmanto, E, 2007,
Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas
Sekolah,
CV. Yrama Widya, Bandung.
Uno, H. Hamzah B., 2007, Profesi
Kependidikan Problema, Solusi, dan Reformasi
Pendidikan
di Indonesia, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Yamin, Marthin, 2007, Profesionalisasi
Guru dan Implenetasi KTSP, Gaung Persada
Press,
Jakarta.
http://www.informasi-pendidikan.com/2013/07/4-kompetensi-guru-profesional.html http://kompetensi.info/kompetensi-guru/empat-kompetensi-guru.htmlhttp://www.teoripendidikan.com/2015/02/contoh-makalah-profesi-gurupengembangan.html
No comments:
Post a Comment