Saturday, 9 April 2016

Guru, Fungsi Guru, dan Tanggung Jawab Guru terhadap Pendidikan Nasional

Makalah ini saya dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Micro  Teaching.
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Dalam proses pendidikan insan manusia merupakan unsur yang sangat diperlukan guna terselenggaranya pendidikan yang efektif dan efisien , kedua unsur tersebut adalah pendidik dan anak didik.
Anak didik dengan istilah peserta didik, dalam UU No 20 tahun 2003 menyatakan peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui  proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Begitu juga dengan pendidik yang disebut dengan guru atau dosen dalam UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dikatakan pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualitas sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhusussanya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Dalam rangka pengembangan sumber daya manusia Indonesia
, peran guru yang profesional punya andil dalam mewujudkannya.  Mengingat pentingnya pemahaman tentang fungsi , tugas  dan tanggungjawab guru, maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai fungsi , tugas  dan tanggungjawab guru untuk menciptakan penddidkan yang lebih baik.

B.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa itu guru
2.      Untuk mengetahui apa saja kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru
3.      Untuk mengetahu keterampilan guru dalam mengajar
4.      Untuk mengatahui fungsi guru
5.      Untuk mengetahui tugas-tugas seorang guru
6.      Untuk mengetahui tanggung jawab seorang guru

C.  Manfaat Tulisan
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut:
1.      Menggugah guru yang membacanya untuk mengabdikan diri secara tulus pada profesinya.
2.      Menjadi salah satu sarana untuk mengajak guru agar meningkatkan kompetensinya sehingga dapat menjadi guru yang profesional dan berprestasi.
3.      Menjadi sarana bagi calon guru untuk mengetahui tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab sebagai guru
4.      Menjadi sebuah wadah bagi penulis untuk menuangkan ide-ide yang dimilikinya sebagai salah satu bentuk aktualisasi diri, perwujudan sebuah pengabdian dan kecintaan terhadap profesi guru untuk dibagikan kepada pembaca.


















BAB II
PEMBAHASAN
A.   Definisi Guru
Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik didik pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.  
Secara definisi sebutan guru tidak termuat dalam UU No. 20 ntahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas). Didalam UU No. 20 tahin 2003; kata guru dimasukkan dalam enus pendidik. Sesungguhnya guru dan pendidik merupakan dua hal yang berbeda. Kata pendidik ( bahasa Indonesia ) merupakan padanan dari kata educator (bahasa Inggris). Di dalam kamus Webster kata educator berarti educationist atau educationalist yang padanannya dalam bahasa Indonesia adalah pendidik, spesialis di bidang pendidikan, atau ahli pendidikan. Kata guru (bahasa Indonesia) merupakan padanan kata teacher (bahasa Inggris). di dalam kamus Webster, kata teacher bermakna sebagai “The person who teach, especially in school” atau guru adalah seseorang yang mengajar,khususnya disekolah.
1.    Kompetensi Guru
Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun klasikal, baik di sekolah maupun luar sekolah. Ini berarti bahwa seorang guru, minimal harus memiliki dasar-dasar kompetensi sebagai wewenang dan kemampuan dalam menjalankan tugas. Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dipahami bahwa kompetensi guru merupakan salah satu hal yang sangat diperhatikan dan merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh seorang guru, baik dari segi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan serta tanggung jawab terhadap murid-murid yang di asuhnya,sehingga tugasnya sebagai seorang pendidik dapat terlaksana dengan baik.
Menurut Mulyasa, kompetensi adalah perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Menurut Muhaimin, kompetensi adalah seperangkat tindakan intelegen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksankan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Sifat intelegen harus ditunjukan sebagai kemahiran, ketetapan, dan keberhasilan bertindak. Sifat tanggung jawab harus ditunjukkan sebagai kebenaran tindakan baik dipandang dari sudut ilmu pengetahuan, teknologi maupun etika. Menurut Muhibbin Syah kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian kompetensi guru adalah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.
Selanjutnya menurut Muhibbin Syah, dikemukakan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Kompetensi guru juga dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya . Menurut Mulyasa kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, sosial, spiritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme.
a.   Kompetensi Personal
Kompetensi Personal atau kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Sub kompetensi dalam kompetensi personal atau kompetensi kepribadian kepribadian meliputi :
1.      Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
2.      Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru.
3.       Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
4.      Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yangh disegani.
5.      Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.
b.   Kompetensi Profesional
Kompetensi Profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya. Sub kompetensi dalam kompetensi profesiona meliputi:
1.      Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang dimampu.
2.      Mengusai standar kompentensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang dimampu.
3.      Mengembangkan materi pembelajaran yang dimampu secara kreatif.
4.      Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
5.      Memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangakan diri.
c.   Kompetensi Sosial
Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Sub kompetensi dalam kompetensi  social meliputi:
1.      Bersikap inkulif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agara, raskondisifisik, latar belakang keluarga, dan status sosial keluarga.
2.      Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.
3.      Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah RI yang memiliki keragaman social budaya.
4.      Berkomunikasi dengan lisan maupun tulisan
d.   Kompetensi Pedagogik
Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Sub kompetensi dalam kompetensi Pedagogik adalah :
1.      Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
2.      Merancang pembelajaran,teermasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran yang meliputi memahmi landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
3.      Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar ( setting) pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
4.      Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan denga berbagai metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan memamfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
5.      Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya meliputi memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasipeserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.

2.    Keterampilan Guru dalam Mengajar
Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif diperlukan berbagai keterampilan yaitu keterampilan mengajar dalam hal ini membelajarkan. Keterampilan mengajar atau membelajarkan merupakan kompetensi pedagogik yang cukup kompleks karena merupakan integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keterampilan merupakan “kecakapan untuk menyelesaikan tugas”,  sedangkan mengajar adalah “melatih”. DeQueliy dan Gazali (Slameto, 2010:30) mendefinisikan mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat. Definisi yang modern di negara-negara yang sudah maju bahwa “teaching is the guidance of learning”. Mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Alvin W.Howard (Slameto, 2010:32) berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill, attitude, ideals (cita-cita), appreciations (penghargaan) dan knowledge.
Berdasarkan pengertian tersebut maka yang dimaksud dengan keterampilan mengajar guru adalah seperangkat kemampuan/kecakapan guru dalam melatih/membimbing aktivitas dan pengalaman seseorang serta membantunya berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan. Jadi, persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru adalah penilaian berupa tanggapan/pendapat  siswa terhadap kemampuan/kecakapan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Dibawah ini adalah 10 keterampilan yang harus dilaksanakan dan dikuasai oleh guru:
1.    Keterampilan membuka pelajaran
Yang dimaksud dengan membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam proses KBM untuk menciptakan prokondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajari, dan  usaha tersebut diharapkan akan memberikan efek positif terhadap kegiatan belajar.
Keterampilan membuka pelajaran terdiri dari:
a.     Memperhatikan sikap dan tempat duduk siswa
b.     Memulai pelajaran setelah Nampak siswa siap belajar
c.     Cara mengenalkan pelajaran cukup menarik
d.     Mengenalkan pokok pelajaran dengan menghubungkan pengetahuan yang sudah diketahui siswa atau apersepsi
e.     Hubungan antara pendahuluan dengan inti pelajaran Nampak jelas dan logis.
Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru pada awal jam pelajaran, tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemukakan tujuan yang akan dicapai, menarik perhatian siswa, member acuan dan dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan yang akan dipelajarinya
Komponen ketrampilan membuka pelajaran meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, dan membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang akan dipelajari. Kalimat-kalimat awal yang diucapkan guru merupakan penentu keberhasilan jalannya seluruh pelajaran. Tercapainya tujuan pengajaran bergantung pada metode mengajar guru di awal pelajaran. Seluruh rencana dan persiapan sebelum mengajar dapat menjadi tidak berguna jika guru gagal dalam memperkenalkan pelajaran.

2.    Keterampilan memberikan motivasi
Secanggih apapun media, buku atau perangkat pembelajaran lainnya tidak akan berguna jika anak didik kita tidak termotivasi. Motivasi, baik dari luar atau dalam, adalah kunci sukses anak didik pada hampir semua jenjang pendidikannya, dan guru dapat memainkan perannya dalam memfasilitasi dan menumbuhkan motivasi tersebut.
Adapun yang dapat dilakukan guru dalam memotivasi siwa, yaitu:
a.     Mengucapkan: “baik”, “bagus”, “ya’, bila siswa menjawabatau mengajukan pertanyaan
b.     Ada perubahan sikap non verbal positif pada saat menanggapi pertanyaan atau jawaban siswa
c.     Memuji dan member dorongan dengan senyum, anggukan atas partisipasi siswa.
d.     Member tuntunan pada siswa agar dapat member jawaban yang benar.
e.     Member pengarahan sederhana pancingan, agar siswa member jawaban yang benar.
memang gampang untuk berbicara daripada dilakukan, memotivasi anak didik tentu akan berbeda-beda dan membutuhkan waktu yang lama. Inilah  beberapa langkah untuk meningkatkan motivasi siswa:
1.      Beri kepercayaan kepada siswa untuk mengendalikan.
Berilah kepercayaan kepada siswa untuk memilih dan mengkontrol apa yang terjadi di dalam kelas, ini salah satu cara agar mereka termotivasi sekaligus bertanggung jawab. Contohnya, izinkan para siswa untuk memilih tugas apa yang akan mereka kerjakan atau masalah mana yang akan dikerjakan dengan tanggung jawab dan kontrol, yang selanjutnya memotivasi mereka untuk berbuat lebih
2.      Jelaskan Tujuan Pembelajaran
Siswa akan kesusahan dan frustasi untuk menyelesaikan tugas atau bahkan untuk berperilaku di kelas jika mereka tidak mengerti betul tujuannya. siswa ingin tahu apa yang akan mereka dapatkan agar tetap termotivasi. pada awal semester, jelaskan tujuan, aturan dan sesuatu yang akan mereka dapatkan jadi siswa tidak akan pusing dan memiliki tujuan hasil kedepannya.
3.      Ciptakan kondisi yang nyaman.
Sementara siswa perlu memahami bahwa ada konsekuensi tindakan mereka, lebih jauh berilah motivasi siswa dari ancaman dan beri hal positif. Ketika guru menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi siswa, menegaskan kepercayaan mereka terhadap kemampuan siswa daripada meletakkan konsekuensi, siswa jauh lebih mendapatkan dan tetap termotivasi untuk melakukan pekerjaan mereka. Pada akhir pembelajaran, siswa akan memenuhi harapan bahwa orang dewasa di sekitar mereka berkomunikasi, sehingga fokus pada bisa, bukan tidak bisa.
4.      Mengubah gaya
Kelas adalah tempat yang tepat untuk belajar, tapi duduk di meja hari masuk dan keluar hari dapat membuat sekolah mulai tampak agak membosankan bagi sebagian siswa. Untuk memperbarui minat dalam materi pelajaran atau hanya belajar pada umumnya, berikan siswa Anda kesempatan untuk keluar dari kelas. keluar kelas menuju lapangan, membawa speaker, atau bahkan hanya kepala ke perpustakaan untuk beberapa penelitian. Otak mencintai perlu hal hal baru agar tetap fresh dan akhirnya akan lebih termotivasi.
5.      Tawarkan pengalaman yang bervariasi
Tidak semua siswa akan merespon pelajaran dengan cara yang sama. Untuk beberapa, hands on pengalaman mungkin yang terbaik. Orang lain mungkin suka membaca buku dengan tenang atau untuk bekerja dalam kelompok. Dalam rangka menjaga semua siswa termotivasi, mencampur pelajaran Anda sehingga siswa dengan preferensi yang berbeda masing-masing membuat waktu terfokus pada hal-hal yang mereka sukai. Melakukan hal ini akan membantu siswa tetap terlibat dan memperhatikan.
6.      Ciptakan Persaingan yang positif
Persaingan di kelas tidak selalu hal yang buruk, dan dalam beberapa kasus dapat memotivasi siswa untuk berusaha lebih keras dan bekerja untuk unggul. Bekerja untuk menumbuhkan semangat persaingan di kelas Anda, mungkin melalui pertandingan grup yang terkait dengan materi atau kesempatan lain bagi siswa untuk memamerkan pengetahuan mereka.
7.      Beri hadiah.
Semua orang suka mendapatkan penghargaan, dan menawarkan siswa kesempatan untuk mendapatkan mereka adalah sumber motivasi. menonton film, atau bahkan sesuatu yang sederhana seperti stiker di atas kertas dapat membuat siswa bekerja lebih keras dan benar-benar bertujuan untuk mencapai. Pertimbangkan kepribadian dan kebutuhan siswa Anda untuk menentukan imbalan yang sesuai untuk kelas Anda
8.      Beri siswa tanggung jawab.
Menetapkan pekerjaan siswa kelas adalah cara yang bagus untuk membangun komunitas dan untuk memberikan siswa rasa motivasi. Kebanyakan siswa akan melihat pekerjaan kelas sebagai suatu kehormatan bukan beban dan akan bekerja keras untuk memastikan bahwa mereka, dan mahasiswa lainnya, adalah harapan pertemuan. Hal ini juga dapat berguna untuk memungkinkan siswa untuk bergiliran memimpin kegiatan atau membantu sehingga masing-masing merasa penting dan dihargai.
9.      Biarkan siswa untuk bekerja sama.
Meskipun tidak semua siswa akan memanfaatkan kesempatan untuk bekerja dalam kelompok, banyak orang akan merasa menyenangkan untuk mencoba memecahkan masalah, melakukan percobaan, dan bekerja pada proyek-proyek dengan siswa lain. Interaksi sosial dapat membuat mereka bersemangat tentang hal-hal di dalam kelas dan siswa dapat memotivasi satu sama lain untuk mencapai tujuan. Guru perlu memastikan bahwa kelompok-kelompok yang seimbang dan adil, bagaimanapun, sehingga beberapa siswa tidak melakukan pekerjaan lebih dari yang lain.
10. Berikan pujian.
Tidak ada bentuk lain dari motivasi yang bekerja cukup serta dorongan. Bahkan sebagai orang dewasa kita mendambakan pengakuan dan pujian, dan mahasiswa pada usia berapa pun tidak terkecuali. Guru dapat memberikan siswa motivasi atas keberhasilan , memberikan pujian untuk pekerjaan yang dilakukan dengan baik, dan berbagi pekerjaan teladan.
11. Mendorong refleksi diri.
Kebanyakan anak-anak ingin sukses, mereka hanya perlu bantuan mencari tahu apa yang harus mereka lakukan dalam rangka untuk sampai ke sana. Salah satu cara untuk memotivasi siswa Anda adalah untuk mendapatkan mereka untuk mengambil keras melihat diri mereka sendiri dan menentukan kekuatan dan kelemahan mereka sendiri. Siswa seringkali jauh lebih termotivasi dengan menciptakan jenis-jenis kritik dari diri mereka sendiri daripada dengan memiliki seorang guru melakukannya untuk mereka, karena membuat mereka merasa bertanggung jawab untuk menciptakan tujuan dan tujuan mereka sendiri.

12. Bersemangatlah.
Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan siswa termotivasi adalah untuk berbagi antusiasme Anda. Bila Anda sangat gembira tentang mengajar, mereka akan jauh lebih bersemangat belajar. Sesederhana itu
13. Ketahui siswamu.
Mengenal siswa Anda adalah lebih dari sekedar menghafal nama mereka. Siswa perlu tahu bahwa guru mereka memiliki minat yang tulus dalam mereka dan peduli tentang mereka dan keberhasilan mereka. Ketika siswa merasa dihargai menciptakan lingkungan belajar yang aman dan memotivasi mereka untuk bekerja lebih keras, karena mereka ingin mendapatkan pujian dan umpan balik yang baik dari seseorang mereka merasa tahu dan menghormati mereka sebagai individu.
14. Manfaatkan minat siswa.
Mengetahui siswa Anda juga memiliki beberapa manfaat lain, yaitu bahwa hal itu memungkinkan Anda untuk berhubungan materi kelas untuk hal-hal yang siswa tertarik atau telah mengalami. Guru dapat menggunakan kepentingan untuk membuat hal-hal yang lebih menarik dan relatable kepada siswa, agar siswa termotivasi untuk lebih lama
15. Buatlah tujuan yang tinggi tetapi dicapai.
Jika Anda tidak mendorong siswa untuk melakukan lebih dari minimal, paling tidak akan berusaha untuk mendorong diri mereka sendiri. Siswa ingin ditantang dan akan bekerja untuk mencapai harapan yang tinggi asalkan mereka percaya tujuan tersebut berada dalam jangkauan mereka, jadi jangan takut untuk mendorong siswa untuk mendapatkan lebih banyak dari mereka
16. Berikan kesempatan untuk sukses.
Siswa, bahkan yang terbaik, bisa menjadi frustrasi dan kehilangan motivasi ketika mereka merasa seperti mereka sedang berjuang atau tidak mendapatkan pengakuan bahwa siswa lain. Pastikan bahwa semua siswa mendapatkan kesempatan untuk bermain untuk kekuatan mereka dan merasa disertakan dan dihargai. Hal ini dapat membuat dunia yang berbeda dalam motivasi mereka.
17. Buatlah hal-hal menyenangkan.
Tidak semua pekerjaan kelas perlu menjadi permainan atau waktu yang baik, tetapi siswa yang melihat sekolah sebagai tempat di mana mereka bisa bersenang-senang akan lebih termotivasi untuk memperhatikan dan melakukan pekerjaan yang diperlukan dari mereka daripada mereka yang menganggapnya sebagai tugas . Menambahkan kegiatan yang menyenangkan ke hari sekolah dapat membantu siswa yang berjuang untuk tetap terlibat dan membuat kelas menjadi tempat yang jauh lebih ramah bagi semua siswa.

3.    Keterampilan bertanya
Bertanya adalah bahasa verbal untuk meminta respon siswa baik berupa pengetahuan, pendapat, atau pun sekedar mengembalikan konsentrasi siswa yang terdestruc oleh berbagai kondisi selama KBM berlangsung. Dalam proses belajar mengajar, “Bertanya” memainkan peranan penting sebab “Bertanya” dapat menjadi stimulus yang efektif untuk mendorong kemampuan berpikir siswa. Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, guru perlu menunjukkan sikap yang baik ketika  mengajukan pertanyaan maupun menerima jawaban siswa. Hendaklah guru menghindari kebiasaan seperti: menjawab pertanyaan sendiri, mengulang jawaban siswa, mengulang pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan dengan jawaban serentak, menentukan siswa yang harus menjawab sebelum bertanya, dan mengajukan pertanyaan ganda. Kegiatan bertanya dalam KBM ini akan lebih efektif bila pertanyaan yang diajukan cukup berbobot, mudah dimengerti atau relevan dengan topik yang dibicarakan. Tujuan guru mengajukan pertanyaan antara lain adalah :
• Menimbulkan rasa ingin tahu
• Merangsang fungsi berpikir
• Mengembangkan keterampilan berpikir
• Memfokuskan perhatian siswa
• Mendiagnosis kesulitan belajar siswa
• Menkomunikasikan harapan yang diinginkan oleh guru dari siswanya
Adapun yang dapat dilakukan guru adalah:
a.     Pertanyaan guru sebagian besar telah cukup jelas
b.     Pertanyaan guru jelas kaitannya dengan masalah.
c.     Pertanyaan ditunjukkan keseluruhan kelas lebih dahulu, baru menunjuk
d.     Guru menggunakan teknik pause dalam menyampaikan pertanyaan.
e.     Pertanyaan didistribusikan secara merata diantara para siswa
f.        Teknik menunjuk yang memungkinkan seluruh siswa siap.
4.    Keterampilan menjelaskan materi atau menerangkan
“Menjelaskan” adalah menyajikan informasi secara lisan, dengan sistematika yang runut untuk menunjukkan adanya korelasi/hubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Ada 2 komponen dalam ketrampilan menjelaskan, yaitu : Merencanakan, hal ini mencakup penganalisaan masalah secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yang ada diantara unsur-unsur yang dikaitkan dengan penggunaan hukum atau rumus-rumus yang sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan. Dan penyajian, merupakan  suatu penjelasan, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: kejelasan, penggunaan contoh dan ilustrasi, pemberian tekanan, dan penggunaan balikan/feedback.
Adapun yang harus dilakukan oleh guru dalam menerangkan atau menjelaskan adalah:
a.     Keterangan guru berfokus pada inti pelajaran
b.     Keterangan guru menarik perhatian siswa
c.     Keterangan guru mudah ditangkap siswa
d.     Menggunakan contoh atau ilustrasi  dan analogi atau semacamnya menarik perhatian siswa
e.     Guru memperhatikan dengan sunggung=sungguh respon siswa berupa pertanyaan, reaksi usul dan semacamnya.
f.        Guru menjelaskan respon siswa, sehingga siswa menjadi jelas dan mengerti.
Kegiatan “menjelaskan” dalam proses KBM bertujuan untuk membantu siswa memahami berbagai konsep, hukum, prosedur, dll, secara obyektif; membimbing siswa memahami pertanyaan; meningkatkan keterlibatan siswa; memberi kesempatan pada siswa untuk menghayati proses penalaran serta memperoleh feedback tentang pemahaman siswa. Apabila seorang guru menguasai “keterampilan menjelaskan” maka guru akan lebih mudah mengelola waktu dalam menyajikan materi, sehingga menjadi lebih efektif memanage waktu.  Selain itu penjelasan yang runut dan sistematis akan memudahkan siswa dalam memahami materi, yang pada gilirannya akan memperluas cakrawala pengetahuan siswa, bahkan mungkin penjelasan guru yang sistematis dan mendalam akan dapat membantu mengatasi kelangkaan buku sebagai sarana dan sumber belajar (mengingat guru adalah salah satu sumber belajar bagi siswa).
5.    Keterampilan menggunakan media dan alat
Media pembelajaran adalah sarana pembelajaran yang digunakan sebagaiperantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas  dan efesiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Adapun yang harus dilakukan oleh guru dalam menggunakan media dan alat, yaitu:
1.      Pemilihan media sesuai PBM yang diprogramkan
2.      Teknik mengkomunikasikan media tepat
3.      Organisasi mengkomunikasikan media menunjang PBM
4.      Guru terampil menggunakan media.
Adapun tujuan keterampilan menggunakan media pembelajaran yaitu:
1.      Memperjelas penyajian pesan agar terlalu verbalitas
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, aktu, dan daya indera.
3.      Memperlancar jalannya proses pembelajaran
4.      Menimbulkan kegairahan belajar.
5.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan dan kenyataan.
6.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya
Media dan alat pengajaran, bila ditinjau dari indera yang digunakan, dapatdigolongkan kedalam tiga bagian- didengar, dilihat, diraba.Pergantian penggunaan jenis media mengharuskan anak menyesuaikanalat inderanya sehingga dapat mempertinggi perhatiannya karena setiapanak mempunyai peredaan kemampuan dalam menggunakan alatinderanya. 4dapun 0ariasi pengguanaan alat antara lain adalah sebagaiberikut:
a.     Variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (visual aids)  seperti grafik bagan poster, diorama,  specimen, gambar, film, dan slide.
b.     Variasi bahan atau alat yang dapat didengar (auitif aids) suara guru termasuk media komunikasi utama di dalam kelas. Selain itu dapat digunakan alat lain sebagai pengguanaan indera dengar divariasikandengan indera lainnya.
c.     Variasi alat atau bahan yang dapat didengar, dilihat, diraba (audio-visual aids) penggunaan alat jenis ini merupakan tingkat yang paling tinggi karena melibatkan semua indera.
d.     Variasi pola interaksi variasi alat atau bahan yang dapat diraba!dimanipulasi! dan digerakkan (motoric).
6.    Keterampilan menggunakan metode pembelajaran yang efektif
Metode pembelajaran adalah teknik atau cara yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa di ruang kelas. Teknik atau cara yang digunakan guru sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran.
Guru tidak akan merasa asing dengan metode pembelajaran yang ada dalam dunia pendidikan di Indonesia. Banyak sekali metode yang sudah diketahui dan dilaksanakan oleh guru dalam pembelajaran. Misalnya; metode ceramah, diskusi, tanya jawab, eksperimen, demonstrasi, pemberian tugas, resitasi dan lain sebagainya.
Metode ceramah merupakan metode paling popular di kalangan guru. Namun sebagian guru menganggap bahwa metode ini dianggap kurang baik dalam pembelajaran. Guru lebih mendominasi pembelajaran ketimbang siswa dan mengurangi kadar  aktivitas siswa dalam belajar.
Metode pembelajaran yang diidolakan adalah metode eksperimen. Jika tidak mungkin melakukan eksperimen digunakan metode demonstrasi karena keterbatasan alat-alat praktikum misalnya. Ada pula yang beranggapan metode pemberian tugas dan resitasi sangat bagus dalam pembelajaran. Hal ini juga ada benarnya.
Suatu metode pembelajaran dikatakan efektif dan efisien dalam membelajarkan siswa sehingga menguasai materi pelajaran. Atau dengan kata lain, seberapa besar penyerapan informasi belajar oleh siswa melalui metode pembelajaran yang digunakan.
Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih suatu metode pembelajaran, yaitu:
1.      Karakter materi pelajaran
Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tersendiri sehingga perlu disampaikan kepada siswa dengan menggunakan metode tertentu. Termasuk di dalamnya tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dari materi pelajaran tersebut. Misalnya mata pelajaran bersifat eksakta lebih tepat menggunakan metode eksperimen atau demonstrasi.
2.      Ketersediaan sarana belajar
Alat, sarana dan media yang tersedia di sekolah sangat mempengaruhi penggunaan metode pembelajaran. Metode eksperimen atau demonstrasi tidak mungkin digunakan jika penunjang metode tersebut tidak tersedia.
3.      Kemampuan dasar siswa
Kemampuan dasar siswa di sekolah pedesaan berbeda dengan di perkotaan. Ini menjadi pertimbangan guru dalam memilih metode pembelajaran. Menggunakan metode resitasi dan tugas, misalnya, bisa berjalan baik bila kemampuan dasar siswa berdiskusi cukup memadai. Selain itu perlu keterampilan siswa berbicara dalam sebuah diskusi.
4.      Alokasi waktu pembelajaran
Alokasi waktu yang tersedia dan tercantum dalam kurikulum perlu dipertimbangkan oleh guru. Jika waktu tersedia terbatas maka guru akan memilih metode sederhana seperti ceramah, tanya jawab dan diskusi. Ini tidak mungkin menggunakan metode eksperimen atau resitasi karena metode ini membutuhkan waktu yang cukup.

7.    Keterampilan berinteraksi yang baik
Keterampilan berinteraksi dengan siswa adalah kemampuan guru dalam melakukan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar, misalnya penghentian tingkah laku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam melaksanakan keterampilan mengelola kelas maka perlu diperhatikan komponen-komponen  keterampilan, antara lain: Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif). Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal seperti keterampilan menunjukkan sikap tanggap, member perhatian, memusatkan perhatian, memusatkan perhatian kelompok, memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas, menegur dan member penguatan. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal. Keterampilan ini  berkaitan dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila terdapat siswa yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan respon yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepada kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua siswa.
Dalam usaha mengelola kelas secara efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh guru, yaitu sebagai berikut:
1.      campur tangan yang berlebihan (teachers instruction).
2.      kesenyapan (fade away)
3.      ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan (stop and stars)
4.       penyimpangan (digression)
5.      bertele-tele (overdwelling)
8.    keterampilan Penampilan Verbal Non Verbal
Berpenampilan adalah sebuah hal yang perlu diperhatikan. Bukan saja agar diperhatikan oleh orang lain tetapi akan bernilai ibadah jika penampilan kita bisa membuat orang tersenyum dan bahagia. Begitu pun hal nya dengan penampilan seorang guru. Guru bukan saja penampilan ala kadarnya dengan kondisi yang biasa saja. Hal ini perlu diperhatikan dengan seksama.
Adapun yang harus diperhatikan guru dalam keterampilan penampilan verbal non verbal adalah:
a.     Gerakan guru wajar dan bertujuan
b.     Gerakan guru bebas
c.     Isyarat guru menggunakan tangan, badan, dan wajah cukup bervariasi
d.     Suara guru cukup bervariasi
e.     Ada pemusatan perhatian dari pihak siswa
f.        Pengertian indra melihat dan mendengar berjalan dengan wajar

Setiap guru harus memiliki kualifikasi persyaratan fisik. Persyaratan fisik ini antara lain meliputi berbadan sehat, tidak memiliki cacad tubuh yang mungkin menganggu pekerjaannya, tidak memiliki gejala-gejala penyakit menular. Dalam persyatan fisik ini juga menyangkut kerapian dan kebersihan, termasuk bagaimana cara berpakaian. Sebab bagaimanapun juga guru akan selalu dilihat, diamati dan bahkan dinilai oleh para siswanya. Guru harus bebas dari penyakit menular atau yang menjijikan, suara yang bersih dan tidak cacat berbicara, seperti gagap, cadel, atau volume suara yang lemah.
Dari aspek fisik, guru harus benar-benar memperhatikan penampilan fisik dari luar maupun dalam. Maksudnya adalah, guru hendaknya memperhatikan setelan baju yang ia hendak pakai untuk mengajar, ini dari sisi luar. Dari sisi dalam, guru hendaknya memperhatikan kesehatan dan vitalitas tubuhnya ketika mengajar.
Dalam memperhatikan penampilan , guru harus berpenampilan rapi, tapi harus dalam batas yang wajar, tidak berlebihan. (Mahmud syamir al munir. 2004, Guru teladan, Gema Pers, Jakarta).

9.    Keterampilan memberikan penjajagan atau assessment
a.     Menaruh perhatian kepada siswa yang mengalami kesulitan
b.     Adanya kesepakatan guru terhadap tanda siswa yang mengalami salah  pengertian
c.     Melakukan penjajagan kepada siswa tentang pelajaran yang telah diterimanya
d.     Mencari atau melakukan apa yang menjadi sumber terjadinya kesulitan
e.     Melakukan kegiatan untuk mengatasi atau menunjukkan kesulitan siswa.
Seorang guru dituntut untuk menguasai kemampuan memberikan penilaian kepada peserta didiknya. Kemampuan ini adalah kemampuan terpenting dalam evaluasi pembelajaran. Dari penilaian itulah seorang guru dapat mengetahui kemampuan yang telah dikuasai oleh para peserta didiknya. Mengetahui kompetensi dasar (KD) apa saja yang telah dikuasai oleh peserta didik dan segera mengambil tindakan perbaikan ketika  terjadi nilai peserta didiknya lemah atau kurang sesuai dengan harapan. Dari penilaian yang dilakukan oleh guru itulah, guru melakukan perenungan diri dari apa yang telah dilakukan.
Prof. Dr. H. Arief Rachman pernah mengatakan kepada kami para guru di Labschool bahwa ada 4 kesadaran yang penting bagi seorang guru atau pendidik dalam memberikan penilaian. Keempat kesadaran itu adalah:
a.     Sense of goal (tujuan)
b.     Sense of regulation (keteraturan)
c.     Sense of achievement (berprestasi)
d.     Sense of harmony (keselarasan)
Berangkat dari keempat kesadaran itulah seharusnya seorang guru melakukan penilaian. Pendidik harus sudah tahu tujuan penilaian itu adalah mengukur kemampuan atau kompetensi siswa setelah dilaksanakannya proses pembelajaran. Setelah guru melakukan penilaian akan terlihat nanti kemampuan setiap siswa setelah guru melaksanakan test atau ujian dan kemudian melakukan penilaian. Ketika guru telah memahami benar tujuan pembuatan soal yang sesuai dengan indikator dalam standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai oleh siswa, maka guru yang bersangkutan akan dengan mudah membuat soal-soal test yang akan diujikan. Dari situlah guru melakukan bobot penilaian yang telah ditentukan lebih dahulu dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Bila semua itu telah direncanakan dengan baik, maka tujuan pembelajaran akan tercapai. Hal ini terlihat dari prestasi siswa yang menggembirakan.
Dalam melakukan penilaian, seorang guru harus menyadari adanya sense of regulation (keteraturan). Guru harus membuat soal yang penuh dengan keteraturan dan sesuai dengan kisi-kisi soal yang telah dibuat sebelumnya. Ketika keteraturan telah menjadi kesadaran guru bahwa soal dibuat dalam rangka mengetahui kemampuan siswa, maka harus sesuai dengan aturan sekolah. Apakah dibuat dalam bentuk multiply chois atau berbentuk essay. Semua itu bergantung dari kesepakatan di antara sesama dewan guru dalam menentukan bentuk soal dan sistem penilaian.
Penilaian yang dilakukan oleh guru harus mampu membuat setiap siswa berprestasi dan menemukan potensi unik yang dimiliki oleh setiap siswa. Akan terlihat nantinya, siswa mana yang unggul di bidang MIPA (matematika dan Ilmu Pengetahuan alam), olahraga, art (seni), dan lain sebagainya. Di sinilah peran guru yang memiliki kesadaran sense of achiement. Ketika terlihat ada siswa yang mengalami masalah dalam pembelajarannya, maka guru perlu melakukan Achievement Motivation Training (AMT) untuk memberikan motivasi dan semangat kepada siswa bahwa mereka sebenarnya bisa. Hanya mungkin faktor kemalasan yang membuat siswa yang bersangkutan mendapatkan nilai rendah.
10. Keterampilan menutup pelajaran dan memberikan penguatan
Menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri proses KBM.  Jangan akhiri pelajaran dengan tiba-tiba. Penutup harus dipertimbangkan dengan sebaik mungkin agar sesuai. Guru perlu merencanakan closing yang baik dan tidak tergesa-gesa. Jangan lupa sertakan pula doa. Hal-kal yang harus dilakukan guru adalah:
a.     Dapat menyimpulkan pelajaran yang tepat
b.     Dapat menggunakan kata kata yang dapat membesarkan hati siswa
c.     Dapat menimbulkan perasaan mampu dari pelajaran yang diperoleh.
d.     Dapat mendorong siswa tertarik pada pelajan.
Komponen-komponen dan prinsip-prinsip dalam menutup pelajaran:
1.      Merangkum Pelajaran.
Sebagai penutup, hendaknya guru memberikan ringkasan dari pelajaran yang sudah disampaikan. Ringkasan pelajaran sudah tidak lagi berupa diskusi kelas atau penyampaian garis besar pelajaran, tetapi berisi ringkasan dari hal-hal yang disampaikan selama jam pelajaran dengan menekankan fakta dasar pelajaran tersebut. Menyampaikan Rencana Pelajaran Berikutnya. Waktu menutup pelajaran merupakan saat yang tepat untuk menyampaikan rencana pelajaran berikutnya. Guru dapat memberikan kilasan pelajaran untuk pertemuan berikutnya. Diharapkan hal ini dapat merangsang keinginan belajar mereka. Sebelum kelas dibubarkan, ungkapkanlah pelajaran yang akan disampaikan minggu depan dan kemukakan rencana-rencana di mana murid dapat mengambil bagian dalam pelajaran mendatang. Bangkitkan minat. Guru tentu ingin murid-muridnya kembali di pertemuan berikutnya dengan penuh semangat. Oleh karena itu, biarkan murid pulang ke rumah mereka dengan satu pertanyaan atau pernyataan yang mengesankan, yang dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu mereka. Sama seperti seorang penulis yang mengakhiri sebuah bab dalam cerita bersambung, yang membuat pembaca ingin segera tahu bab berikutnya. Dengan cara yang sama, guru dapat mengakhiri pelajarannya dengan penutup yang “berklimaks” sehingga seluruh kelas menantikan pelajaran berikutnya dengan tidak sabar.
2.      Meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkumpelajaran dan membuat ringkasan
3.      Mengevaluasi
4.      Memberikan tugas.
Tugas-tugas harus direncanakan dengan saksama. Perlu diingat pula sikap guru yang bersemangat dalam memberikan tugas akan mempengaruhi minat dan semangat para anggota kelas”. (Benson : 80-85).
                     Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, baik bersifat verbal maupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima (siswa), atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan juga merupakan respon terhadap tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.
         Teknik pemberian penguatan dalam KBM yang bersifat verbal dapat dinyatakan melalui pujian, penghargaan atau pun persetujuan, sedangkan penguatan non verbal dapat dinyatakan melalui gesture, mimic muka (ekspresi), penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan sentuhan (contact), penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, dll.
         Dalam rangka pengelolaan kelas, dikenal penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif bertujuan untuk mempertahankan dan memelihara perilaku positif, sedangkan penguatan negatif merupakan penguatan perilaku dengan cara menghentikan atau menghapus rangsangan yang tidak menyenangkan. Manfaat penguatan bagi siswa adalah untuk meningkatkan perhatian (fokus) siswa dalam belajar, membangkitkan dan memelihara perilaku, menumbuhkan rasa percaya diri, dll.
B.    Fungsi Guru
Menurut UU.RI.No.14 th 2005 bab 2 pasal 5 yang berbunyi : “Kedudukan dosen sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat 1 berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran dosen / guru sebagai agen pembelajaran,pengembang ilmu pengetahuan,tekhnologi dan seni serta pengabdi kepada masyarakat berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.”
Adapun Fungsi Guru sebagai berikut :
1.    Sumber Belajar
Mengingat tugas guru sebagai transmisi ilmu,maka di harapkan mampu menguasai materi yang di ajarkannya.Sebab seorang guru merupakan sumber dari belajarnya.Apa yang tidak di pahami oleh peserta didik,diharapkan seorang gurulah yang akan membantunya dalam memecahkan persoalan yang di hadapi.

2.    Fasilitator
Sebagai fasilitator seorang guru berperan sebagai pendamping belajar para peserta didiknya dengan suasana yang menyenangkan.Agar dapat melaksanakan tugas sebagai fasilitator ada beberapa hal yang harus di pahami guru :
Ø  Memahami berbagai jenis media dan sumber belajar beserta fungsi masing-masimg media tersebut
Ø  Mempunyai ketrampilan dalam merancang suatu media
Ø  Mampu mengorganisaikan berbagai jenis media serta dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar
Ø  Mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik
3.    Pengelola
Seorang guru sebagai pengelolah pembelajaran berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa belajar dengan nyaman.
Sebagai manager,guru memiliki 4 fungsi umum :
Ø  Merencanakan tujuan belajar
Ø  Mengorganisasikan berbagai sumber belajar untuk mewujudkan tujuan belajar
Ø  Memimpin,meliputi : memotivasi,mendorong dan menstimulasi peserta didik
Ø  Mengawasi segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan
4.    Demonstator
Seorang guru dapat mempertunjukkan kepada peserta didik agar memahami dan mengerti dari setiap pesan yang di sampaikannya.


5.    Pembimbing
Setiap peserta didik pada saat lahir telah memiliki potensi-potensi yang kemudian dapat di tumbuhkembangkan sesuai dengan potensinya.Maka seorang guru berperan dalam membimbing dan mengarahkannya.
            Hal yang harus di miliki seorang guru antara lain :
Ø  Seorang guru harus memahami peserta didik yang sedang di bimbingnya
Ø   Seorang guru harus memahami dan terampil dalam merencanakan tujuan kompetensi yang akan di capai
6.    Motivator
Untuk menghasilkan sistem belajar yang optimal seorang guru di tuntut kreatif dalam membangkitkan motivati belajar peserta didiknya dengan cara:
Ø  Memperjelas tujuan yang ingin di capai
Ø  Membangkitkan minat peserta didik dalam belajar
Ø   Menciptakan suasana yang menyenangkan
Ø  Memberikan pujian terhadap keberhasilan peserta didik
Ø  Memberi komentar yang mendidik tentang hasil pekerjaan peserta didik
7.    Evaluator
Dengan adanya evaluasi seorang guru dapat mengetahui apakah siswanya telah berhasil sehingga mereka layak untuk diberikan materi yang baru ataukah sebaliknya sehingga mereka perlu adanya remidi.
Dengan adanya pemahaman tentang pentingnya tugas dan fungsi guru profesional,semoga guru sekarang tidak terjangkit oleh virus penyakit yang dapat menyerang seorang guru,melemahkan kualitas guru,dan berdampak negatif pada upaya peningkatan mutu pendidikan.

C.  Tanggung Jawab Guru
1.    Tugas Guru
Menurut UU Nomor 15 tahun 2005 Bab I Pasal 1 tentang guru dan dosen bahwa, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Hamzah B Uno (2007:18) berpendapat bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas personal (pribadi), dan tugas sosial (kemasyarakatan).
1.      Tugas-tugas professional
Guru harus memiliki pengetahuan yang luas dari Subject Matter (bidang studi) yang akan diajarkan serta penguasaan metodologi dalam arti memiliki konsep teoritis dan mampu memilih metode dalam proses pembelajaran. Seorang guru harus meneruskan atau mentransfer ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak. Hamzah B Uno (2007:19) berdasarkan peran guru sebagai pengelola proses pembelajaran, guru harus memiliki kemampuan :
a.     Merencanakan sistem pembelajaran
1.      Merumuskan tujuan
2.      Memilih prioritas materi yang akan diajarkan,
3.      Memilih dan menggunakan metode,
4.      Memilih dan menggunakan sumber belajar yang ada,
5.      Memilih dan menggunakan media pembelajaran.
b.     Melaksanakan sistem pembelajaran
1.      Memilih bentuk kegiatan pembelajaran yang tepat,
2.      Menyajikan urutan pembelajaran secara tepat.
c.     Mengevaluasi sistem pembelajaran
1.      Memilih dan menyusun jenis evaluasi,
2.      Melaksanakan kegiatan evaluasi sepanjang proses,
3. Mengadministrasikan hasil evaluasi.
d. Mengembangkan sistem pembelajaran
1. Menoptimalisasikan potensi peserta didik,
2. Meningkatkan wawasan kemampuan diri sendiri,
2. Mengembangkan program pembelajaran lebih lanjut.
Disamping sebagai pengelola proses pembelajaran, guru juga mempunyai tugas profesional lain, yaitu mendidik. Chatarina (2008:34) memberikan makna mendidik sebagai mendorong dan membimbing peserta didik agar maju menuju kedewasaan secara utuh, sehingga menjadikan peserta didik baik dan benar. Kedewasaan yang dimaksud meliputi kedewasaan intelektual, emosi, sosial, fisik, seni, spiritual, dan moral. Hal ini berarti bahwa siswa perlu dibantu untuk berkembang secara holistik, sehingga perkembangannya tidak hanya pada aspek intelektualnya saja. Peserta didik dibantu agar emosinya seimbang dan tertata, sehingga tidak menjadi emosional tatkala bersikap. Sebagai makhluk sosial, peserta didik juga dibantu mengembangkan kepekaan dan rela hidup dengan orang lain. Secara fisikpun peserta didik perlu dibantu agar menjadi manusia yang sehat jasmaninya.

2.      Tugas Personal (pribadi)
Menurut Martinis Yamin (2007:5) tugas personal (pribadi) mencakup hal-hal sebagai berikut : Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya, Pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.
Menurut Chatarina (2008:30), seseorang menjadi guru harus memahami bahwa profesi yang ditempuhnya berdasarkan panggilan hidup bukan sekedar bentuk kompensasi karena tidak ada profesi lain yang bisa ditekuni. Lebih lanjut dikatakan bahwa, terdapat dua kriteria bahwa profesi sebagai panggilan hidup, yaitu: (1)pekerjaan itu membantu mengembangkan orang lain atau ada unsur sosial, dan (2) pekerjaan itu juga mengembangkan dan memenuhi diri kita sebagai pribadi.

3.      Tugas sosial (Kemasyarakatan)
Menurut Chatarina (2008:31), tugas guru hendaknya disesuaikan dengan misi kemanusiaan, artinya bahwa tugas yang dilakukan guru tatkala mengajar dan mendidik selalu terfokus pada loyalitasnya terhadap masyarakat.
Guru harus menunjukkan atau mampu berinteraksi sosial, baik dengan peserta didiknya maupun dengan sesama guru, karyawan, dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Guru harus memahami dan menerapkan prinsip belajar humanistik yang beranggapan bahwa keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan yang ada pada diri peserta didik tersebut. Tugas sosial yang dimiliki guru adalah menyangkut kemampuan berkomunikasi dengan peserta didik dan lingkungan mereka seperti, orang tua, tetangga, dan sesama teman. Dalam menjalankan tugas sosialnya, seorang guru juga harus bercermin pada kearifan lokal “Hasta Brata”. Dengan hasta brata diharapkan guru benar-benar sebagai seorang pemimpin dalam lingkungan sosial (masyarakat).
Ketiga tugas guru itu harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus mampu menjadi katalisator, motivator dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal. Ketiga tugas ini jika dipandang dari segi anak didik maka guru harus memberikan nilai-nilai yang berisi pengetahuan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, pilihan nilai hidup dan praktek-praktek komunikasi. Pengetahuan yang kita berikan kepada anak didik harus mampu membuat anak didik itu pada akhimya mampu memilih nilai-nilai hidup yang semakin komplek dan harus mampu membuat anak didik berkomunikasi dengan sesamanya di dalam masyarakat, oleh karena anak didik ini tidak akan hidup mengasingkan diri. Kita mengetahui cara manusia berkomunikasi dengan orang lain tidak hanya melalui bahasa tetapi dapat juga melalui gerak, berupa tari-tarian, melalui suara (lagu, nyanyian), dapat melalui warna dan garis-garis (lukisan-lukisan), melalui bentuk berupa ukiran, atau melalui simbul-simbul dan tanda tanda yang biasanya disebut rumus-rumus.
Jadi nilai-nilai yang diteruskan oleh guru atau tenaga kependidikan dalam rangka melaksanakan tugasnya, tugas profesional, tugas personal, dan tugas sosial, apabila diutarakan sekaligus merupakan pengetahuan, pilihan hidup dan praktek komunikasi. Jadi walaupun pengutaraannya berbeda namanya, oleh karena dipandang dari sudut guru dan dan sudut siswa, namun yang diberikan itu adalah nilai yang sama, maka pendidikan tenaga kependidikan pada umumnya dan guru pada khususnya sebagai pembinaan prajabatan, bertitik berat sekaligus dan sama beratnya pada tiga hal, yaitu melatih mahasiswa, calon guru atau calon tenaga kependidikan untuk mampu menjadi guru atau tenaga kependidikan yang baik, khususnya dalam hal ini untuk mampu bagi yang bersangkutan untuk melaksanakan tugas profesional.
UU Nomor 14 Tahun 2005     Bab IV Pasal 20 Tentang Guru dan Dosen dijelaskan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalisan, guru berkewajiban :
a.     Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
b.     Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
c.     Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
d.     Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan
e.     Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Apabila seorang guru telah selesai melaksanakan tugas-tugas pokoknya, maka guru tersebut mendapatkan hak-haknya. Adapun hak guru dijelaskan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Bab IV Pasal 14 Bagian 1 tentang guru dan dosen sebagai berikut:
a.     memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;
b.     mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;
c.     memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;
d.     memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi;
e.     memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

2.    Tanggung Jawab Guru
Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus Bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab,mananggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya. Jadi, tanggung jawab seorang guru adalah keaadaan wajib menanghung segala sesuatu, memberikan jawaban, dan menanggung akibat sebagai guru.
Dibawah ini adalah beberapa tanggung jawab yang harus ditanggung  oleh  guru, yaitu:
a.   Tanggung jawab Guru terhadap Administrasi Sekolah
Sebagaimana kita ketahui bahwa tugas wajib guru adalah mendidik (mengajar). Tetapi disamping mengajar, guru juga melaksanakan tugas-tugas administrasi yang berhubungan dengan pendidikan. tugas-tugas tersebut yang disebutkan bahwa guru berfungsi sebagai administrator. Dalam buku Pedoman Administrasi dan Supervisi yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1970 hal. 4)  tertulis tugas dan tanggung jawab guru sebagai administrator yaitu :
1. Menguasai program pengajaran (garis-garis besar program)
2. Menyusun program kegiatan mengajar
3. Menyusun model satuan pelajaran dan pembagian waktu
4. Melaksanakan tata usaha kelas, antara lain pencatatan data murid.
Hal-hal tersebut diatas lebih mengena ditujukan pada guru kelas (di sekolah dasar), dimana seorang guru di samping mengajar seluruh bidang studi, juga menjalankan tugas administrasi. Adapun tanggung jawab guru secara umum diantaranya adalah seperti akan diuraikan dibawah ini.
Seperti telah disebutkan dimuka bahwa ada beberapa komponen administrasi sekolah yaitu :
1. Administrasi kurikulum
2. Administrasi personal
3. Administrasi murid
4. Administrasi tata laksana (ketatausahaan)
5. Administrasi saran
6. Kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat.

Dari keenam komponen diatas ada beberapa hal yang menjadi tugas dan tanggung jawab guru diantaranya adalah :
A.    Dalam bidang administrasi kurikulum, diantaranya :
1.      Menyusun program mengajar sesuai dengan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dalam kurikulum yang berlaku.
2.      Menyusun model satuan pelajaran beserta pembagian waktunya.
3.      Merencanakan dan melaksanakan program evaluasi pendidikan (tes formatif, tes summatif, EBTA).
4.      Memberikan bimbingan belajar kepada murid.

B.      Dalam bidang administrasi murid diantaranya :
1.      Menjadi panitia dalam penerimaan murid baru.
2.      Mempertimbangkan syarat kenaikan kelas atau kelulusan.
3.      Menyusun tata tertib sekolah.
4.      Membantu mengawasi dan membimbing organisasi murid.
5.      Berpartisipasi dalam kegiatan upacara sekolah.

C.    Dalam bidang administrasi sarana pendidikan diantaranya :
1.      Inventarisasi alat peraga pada bidang studi masing-masing.
2.      Merencanakan dan mengusahakan buku pegangan baik untuk guru maupun murid.
3.      Mengatur penggunaan laboratorium sekolah.

b.   Tanggung Jawab guru didalam Kelas
Tanggung jawab guru didalam kelas adalah
1.      Tanggung jawab membuka kelas atau membuka pelajaran
2.      Tanggung jawab memberikan motivasi kepada siswa supaya membakar semangat belajar siswa
3.      Tanggung jawab untuk bertanya kepada siswa supaya guru tau bagaimana kekurangan siswa dalam pelajaran.
4.      Tanggung jawab untuk menjelaskan materi pelajaran
5.      Tanggung jawab dalam menggunakam media sebagai bahan ajar
6.      Tanggung jawab memberikan tugas dan latihan kepada iswa
7.      Tanggung jawab memeriksa tugas-tugas atau latihan para siswa.

c.   Tanggung jawab Guru di Sekolah
Berikut ini adalah beberapa tanggung jawab guru di sekolah, yaitu:
1.      Mengikuti jadwal piket sekolah
2.      Mematuhi tata tertib sekolah
3.      Menyiapkan pembelajaran untuk siswa
4.      Mengikuti kebijakan sekolah
5.      Mengikuti upacara rutin di sekolah
6.      Mengikuti senam pada hari yang di tentukan
7.      Tanggung jawab menyerahkan nilai tepat waktu pada sekolah
8.      Tanggung jawab dalam perlengkapan mengajar
d.   Tanggung jawab Guru terhadap Ketuntasan Belajar Siswa
ketuntasan belajar merupakan keadaan atau tingkat penguasaan secara tuntas seluruh atandar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. Untuk mencapai ketuntasan belajar tersebut diperlukan sebuah pendektan pembelajaran yang disebut dengan pembelajaran tuntas yang dilakukan oleh guru.
Pembelajaran tuntas yang dimaksud dalam pelaksanaan KTSP adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan secara individual.[14] Dalam hal ini pemberian kebebasan belajar, serta untuk mengurangi kegagalan siswa dalam belajar, setrategi belajar tuntas menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan pada sekelompok siswa (kelas), tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan siswa sedemikian rupa, sehingga dengan penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal. Dasar pemikiran dari belajar tuntas dengan pendekatan individual ialah adanya pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing siswa.
Dengan demikian, dalam pembelajaran tuntas ini benar-benar dilakukan oleh guru melalui asas-asas ketuntasan belajar yaitu mulai dari perencanaan (RPP), strategi belajar, metode pembelajaran, media pembelajaran serta asek-aspek lain yang menyangkut mengenai ketuntasan belajar. Inilah letak perbedaannya dengan pembelajaran kompensional yang pada umumnya tidak memperhatikan ketuntasan belajar khususnya ketuntasan siswa secara individual.

e.   Tanggung Jawab Guru di Masyarakat
Tanggung jawab para guru  dan unsur pendidikan lainnya bukan hanya sekedar dalam hal mengajar atau memajukan dunia pendidikan di sekolah di tempatnya bertugas, tetapi juga bertangggung jawab untuk mengajak masyarakat di sekitarnya masing-masing untuk ikut berpartisipasi dalam memajukan pendidikan di wilayahnya. Maju mundurnya pendidikan di daerah tergantung kinerja para dewan guru, pengawas ekolah dan komite sekolah, karenanya diharapkan semuanya biasa menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya yang disertai keikhlasan hati dalam mengemban amanah yang diberikan.
Sebagai seorang warga negara yang baik,seorang guru turut mengembangkan dan melaksanakan apa yang telah di gariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945 dan GBHN.Adapun tugas tersebut meliputi :
1.      Mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi WNI yang bermoral pancasila
2.      Mencerdaskan bangsa Indonesia
Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat dilingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berdasarkan Pancasila.
Tugas guru tidaklah terbatas di dalam masyarakat, bahkan guru pada hakikatnya merupakan komponen strategis yang memilih peran yang penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Bahkan keberadaan guru merupakan faktor condiso sine quanom yang tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu, terlebih-lebih pada era kontemporer ini.
Keberadaan guru bagi suatu bangsa amatlah penting, apalagi bagi suatu bangsa yang sedang membangun, terlebih-lebih bagi keberlangsungan hidup bangsa ditengah-tengah lintasan perjalanan zaman dengan teknologi yang kian canggih dan segala perubahan serta pergeseran nilai yang cenderung memberi nuansa kepada kehidupan yang menuntut ilmu dan seni dalam kadar dinamik untuk dapat mengadaptasikan diri.
Semakin akurat para guru melaksanakan tugasnya, semakin terjamin tercipta dan terbinanya kesiapan dan keandalan seseorang sebagai manusia pembangunan. Dengan kata lain, potret dan wajah diri bangsa di masa depan tercermin dari potret diri para guru masa kini, dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding lurus dengan citra para guru di tengah-tengah msyrakat.
Sejak dulu, guru menjadi panutan masyarakat. Guru tidak hanya diperlukan oleh para murid di ruang-ruang kelas, tetapi juga diperlukan oleh masyarakat lingkungannya dalam menyelesaikan aneka ragam permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Tampaknya masyarakat mendudukkan guru pada tempat yang terhormat dalam kehidupan masyarakat, yakni di depan memberi suri teladan, di tengah-tengah membangun, dan di belakang memberi dorongan dan motivasi. Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Kedudukan guru yang demikian itu senantiasa relevan dengan zaman dan sampai kapanpun diperlukan. Kedudukan guru seperti itu merupakan penghargaan masyarakat yang tidak kecil. Artinya bagi para guru, sekaligus merupakan tantangan yang menuntut prestise dan prestasi yang senantiasa terpuji dan teruji dari setiap guru, bukan saja di depan kelas, di batas-batas pagar sekolah, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat, (Ny. Nani Soedarsono, S.H., Suara Daerah, No. 185, Agustus 1986).

















BAB III
KESIMPULAN
A.   Kesimpulan
1.      Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik didik pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 
2.      Kompetensi guru terdiri dari:
a.     Kompetensi profesiona
b.     Kompetensi sosial
c.     Kompetensi pedagogic
d.     Kompetensi personal atau kompetensi kepribadian
3.      Keterampilan guru dalam mengajar terdiri dari
a.     Keterampilan dalam membuka pelajaran
b.     Keterampilan memberikan motivasi kepada siswa
c.     Keterampilan bertanya
d.     Keterampilan menjelaskan materi terkait
e.     Keterampilan dalam menggunakan media dan alat dalam pembelajaran
f.        Keterampilan dalam menggunakan metode yang efektif
g.     Keterampilan dalam penampilan yang yang baik
h.     Keterampilan dalam memberikan penilaian
i.         Keterampilan dalam menutup pelajaran
4.      Fungsi guru meliputi:
a.     Guru sebagai sumber belajar
b.     Guru sebagai fasilitator
c.     Guru sebagai pengelola
d.     Guru sebagai demonstrator
e.     Guru sebagai pembimbing
f.        Guru sebagai motivator
g.     Guru sebagai evaluator
5.      Tugas guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
6.      Tanggung jawab guru terdiri dari:
a.     Tanggung jawab guru terhadap administrasi sekolah
b.     Tanggung jawab guru didalam kelas
c.     Tanggung jawab guru di sekolah
d.     Tanggung jawab guru terhadap ketuntasan belajar siswa tanggung jawab guru di masyarakat.
B.    Saran
Penulis menyarankan kepada khususnya mahasiswa jurusan pendidikan guru agar dapat meningkatkan kualitas cara mengajar sehingga dapat mencerdaskan anak bangsa dan mampu meningkatkan derajat pendidikan di Indonesia.
C.  Harapan
Penulis mengharapkan semua komponen pendidikan yang terkait langsung maupun tidak langsung untuk dapat sadar dan memahami serta berupaya untuk dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia dengan cara mengoptimalkan kualitas dan kuantitas pendidikan.













DAFTAR PUSTAKA
Bafadal, Ibrahim. 2003, Peningkatan Profesional Guru SD, Jakarta: Bumi Aksara
Mulyasa. 2007, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sadulloh, Uyoh.Dkk. 2006, Pedagogik,  Bandung: Upi Press
Yasyin, Sulchan. 1997, Kamus Bahasa Indonesia(KBI – Saku), Surabaya: Amanah
Redaksi Sinar Grafika.UU Guru & Dosen. Penerbit Sinar Grafika.Jakarta
Anni, Chatarina Tri dan Mugiarso, Heru, 2008, Bahan Ajar Teori Kepribadian dan                                 
  Etika, Unnes Semarang.
Aqib, Z dan Rohmanto, E, 2007, Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas
            Sekolah, CV. Yrama Widya, Bandung.
Uno, H. Hamzah B., 2007, Profesi Kependidikan Problema, Solusi, dan Reformasi
            Pendidikan di Indonesia, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Yamin, Marthin, 2007, Profesionalisasi Guru dan Implenetasi KTSP, Gaung Persada
            Press, Jakarta.

No comments:

Post a Comment